Beranda Ekonomi BIsnis Kadispora Kota Tangerang: Azmi Pemuda Inovatif Sukses Budidaya Lele

Kadispora Kota Tangerang: Azmi Pemuda Inovatif Sukses Budidaya Lele

225
0

Kadispora Kota Tangerang Kaonang didampingi Kabid Pemuda Dispora Deny Kuncoro berkunjung ke kolam budidaya lele milik Azmi di Ketapang Kecamatan Cipondoh, Kamis siang 10 Maret 2022. (foto: tangerangsatu.co.id/ateng san)

TangerangSatu.co.id, KOTA TANGERANG – Diusianya yang masih muda Azmi Rahadi (23 tahun) berhasil berwirausaha budidaya ikan lele dengan menghasilkan pendapatan bersih di atas lima juta rupiah perbulan. Azmi Rahadi peraih penghargaan sebagai sosok inspiratif dalam Tangerang Awards tahun 2022.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kota Tangerang Kaonang bersama Kepala Bidang (Kabid) Pemuda Deny Kuncoro menyempatkan ke kolam budidaya ikan lele milik Azmi di Kelurahan Ketapang Kecamatan Cipondoh, Kamis siang 10 Maret 2022.

Kaonang mengatakan sosok Azmi yang sukses menjadi pemdudidaya lele menjadi inspiratif kaum muda cermat membaca peluang usaha. Azmi salah satu pemuda Kota Tangerang inovatif dan kreatif untuk meraih keberhasilan berwirausaha.

Sementara itu melalui CV Hadijaya lele yang didirikannya,  Azmi dapat melakukan panen seminggu 2 kali dengan total mencapai 4 kuintal per bulannya.

Azmi mengaku usaha yang dirintisnya tak terdampak badai Covid-19. Pesanan ikan lele malah semakin banyak sebab lele menjadi pilihan lauk-pauk yang banyak disukai masyarakat dengan harga terjangkau.

Kesuksesannya mengembangkan budidaya lele berawal saat duduk di kelas 2 SMKN 4 Tangerang. Saat itu Azmi sudah mulai memikirkan masa depannya apakah bekerja atau mendirikan usaha sendiri.

“Kalau kerja ya begitu aja ritmenya ikut bekerja dengan orang lain, kalau wirausaha kita harus banyak mikir agar usaha kita jalan terus,” ujarnya.

Keinginan Azmi berwirausaha sejalan dengan minat dan hobinya beternak atau budidaya hewan. Bermodal pengetahuan secara otodidak yang diraih dari internet dan modal sejumlah 5 juta dari orangtuanya, Azmi memberanikan diri membuka 4 kolam lele dibelakang rumahnya.

“Pilihannya kenapa lele pertama lele mudah di budidaya di lingkungan karena tidak berisik, dan mengeluarkan bau yang menyengat seperti ayam ataupun kambing,” ujar lulusan Universitas Bung Karno ini.

Selama dua tahun yakni 2014 sampai 2016 memulai usaha, Azmi tak mendapatkan untung besar alias tipis. Saat itu hasil panennya dijual ke tengkulak.

Ami menerima penghargaan dari Pemerintah Kota Tangerang yang diserahkan Wakil Wali Kota Tangerang Sachrudin. (foto: istimewa)

“Sejak itu mulai berfikir agar usaha ini untungnya besar, maka kita mulai juga tak hanya jadi petani tapi juga jadi tengkulak,” katanya.

Keinginan memajukan usaha bersamaan dengan kesempatan mengikuti pelatihan yang digelar Pemkot Tangerang. Azmi mendapatkan pengetahuan baru tentang budidaya ikan lele terutama terkait pakan yang memiliki protein tinggi.

“Dari pelatihan saya belajar membuat pakan yang tinggi protein sehingga mempercepat waktu panen,” ungkapnya.

Pemberian pakan alternatif yang menjadi rahasia dapur budidaya ikan lele nya itu pun dikonsultasikan ke tokoh agama dan sudah melalui uji lab kesehatan.

“Pakan yang kami berikan sudah sesuai standar kesehatan dan syariat agama,” katanya.

Azmi menjadi satu-satunya peserta pelatihan yang masih bertahan dengan usaha budidaya ikan lele. Banyak peserta lainnya tak bertahan mengembangkan usaha dengan berbagai sebab diantaranya tak konsisten mengurusi kolam ikan lele.

Setelah berhasil menciptakan pakan alternatif kaya protein, Azmi mulai mengembangkan usahanya dengan menjual sendiri hasil panen ke pasar.

“Kita mulai pasarkan sendiri, jadi ga melalui tengkulak lagi,” ujar warga Kelurahan Ketapang Kecamatan Cipondoh ini.

Upaya Azmi dimulai dari Pasar Sipon Cipondoh hingga saat ini merambah ke 9 pasar tradisional di Jabodetabek mulai dari Pasar Cengkareng hingga ke Pasar Pondok Aren Tangerang Selatan.

Cara Azmi memasarkan hasil panennya memang cukup unik. Ia door to door mendatangi pasar dan menawarkan secara langsung kepada pemiliknya.

Menurutnya cara tersebut membutuhkan keberanian dan kemauan untuk berkeliling mencari konsumen. Tak hanya pedagang Pasar Azmi juga mendatangi pedagang pecel lele  menawarkan lele yang lebih murah dari harga pasaran lalu meninggalkan kartu nama dan nomor telepon.

“Dari hasil menyebar kartu nama kemudian ada pesanan hingga menjadi pelanggan tetap sampai sekarang,” ungkapnya.

Selain door to door, Azmi juga memanfaatkan media sosial untuk memasarkan hasil panennya. “Ternyata di medsos terutama facebook efektif melakukan promosi, banyak pedagang yang aktif di medsos,” katanya.

Kegigihan Azmi mempromosikan lele didasari data bahwa kebutuhan ikan lele di Jakarta saja mencapai 20 ton per hari. Oleh karenanya ia melakukan teknik tersebut.

“Lele ini pasarnya sangat terbuka, dari 20 ton minimal kita ikut memasok puluhan kilogramnya saja sudah untung,” tinggal kita mau jalan apa enggak,” tambahnya.

Dalam rangka mengembangkan usahanya, Azmi juga mengikuti berbagai perlombaan mulai dari tingkat kampus sampai dengan nasional.

Azmi mengikuti lomba inovasi wirausaha muda yang digelar Kemenpora. Azmi bersaing dengan peserta dari seluruh Indonesia. “Alhamdulilah di lomba ini menang,” katanya.

Dari hasil lomba Kemenpora, Azmi memperoleh hadiah mengelola lahan untuk dibuka kolam baru yang berada di wilayah Karawaci. Saat ini Azmi memiliki total 27 kolam ikan lele tersebar di Cipondoh dan Karawaci.

“Ke depan kita melalui CV Hadijaya akan membuka lagi kolam di daerah Curug yang merupakan hasil kerjasama bisnis, lalu juga banyak penawaran-penawaran kerjasama baru yang sedang kita jajaki,” ungkapnya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here