Kebijaksanaan KH Ma’ruf Amin dalam Meredam Gejolak Pilpres 2019

Penulis: Ahmad Harris*

Keputusan Presiden Jokowi untuk memilih Kyai Ma’ruf Amin sebagai wakilnya menuai reaksi di masyarakat. Meski sejumlah pihak mendukung, nyatanya sebagian lainnya menyayangkan keputusan tersebut. Berbagai opini diangkat sebagai alasan ketidaksetujuan terhadap pemilihan Kyai Ma’ruf Amin, khususnya terkait usia. Sebagian masyarakat berpikir Ma’ruf Amin tidak akan dapat memimpin dengan baik mengingat usianya yang sudah uzur. Permasalahan usia yang pada akhirnya dieksploitasi oleh kubu penantangnya untuk mereduksi dukungan terhadap Jokowi-Kyai Ma’ruf Amin.

Berbagai meme maupun tulisan disebar di media sosial untuk meyakinkan masyarakat agar tidak memilih Kyai Ma’ruf Amin. Dalam suatu tulisan, Kyai Ma’ruf Amin pernah disebutkan sebagai sosok pikun yang bahkan tidak dapat mengingat sandalnya sehabis Sholat Jum’at. Tulisan tersebut tampaknya salah satu rekayasa buruk yang digunakan kubu oposisi. Pada kenyataannya, Kyai Ma’ruf Amin dengan usia 75 tahun, hingga saat ini masih memiliki ingatan yang tajam. Di samping itu, Kyai Ma’ruf Amin juga masih sehat walafiat dan tidak mengidap penyakit serius. Jika dibandingkan, Kyai Ma’ruf Amin bahkan masih lebih muda 1 tahun dibandingkan dengan Wapres Jusuf Kalla. Namun, Jusuf Kalla tampaknya tidak pernah diterpa isu usia saat masa Pemilu 2014.

Kyai Ma’ruf Amin memang bukan merupakan sosok yang muda lagi. Namun, masalah usia juga tidak menjadi masalah selama ia mampu berkontribusi dan mengabdi bagi negara. Saya melihat Kyai Ma’ruf Amin bukanlah sosok yang tua, tetapi sosok yang sangat dewasa. Kematangan berpikir, berperilaku serta tutur katanya sangat menunjukkan bahwa Kyai Ma’ruf Amin adalah orang paling dewasa dibanding tokoh politik yang kerjanya hanya menyebarkan provokasi dan kebencian. Jika dihadapkan pada dua pilihan, yaitu ulama dewasa dengan tokoh politik yang kekanak-kanakan, maka dengan yakin saya akan memilih ulama dewasa tanpa harus berpikir dua kali.

Sosok Kyai Ma’ruf Amin merupakan kunci dalam Pilpres 2019. Bukan hanya kunci untuk kubu Presiden Jokowi tetapi juga untuk Indonesia. Hadirnya Kyai Ma’ruf Amin di pihak Jokowi akan menetralisir politik identitas yang dikumandangkan oleh kubu oposisi. Dapat dikatakan, peran Kyai Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019 adalah penyejuk di tengah-tengah panasnya narasi kebohongan yang dibangun oleh pihak oposisi. Jika kubu oposisi dianalogikan sebagai api yang membakar Indonesia, maka dapat dikatakan Kyai Ma’ruf Amin hadir sebagai air yang memadamkan api tersebut.

Menanggapinya, kubu oposisi tentu tidak ingin api yang telah dibangun untuk mereduksi dukungan terhadap Jokowi akan dipadamkan begitu saja oleh sosok Kyai Ma’ruf Amin. Oleh karenanya, kubu oposisi akan terus menyerang Kyai Ma’ruf Amin dengan narasi-narasi provokatif murahan. Bahkan, kubu oposisi pernah membangun opini bahwa Kyai Ma’ruf Amin sebagai ulama yang haus akan kekuasaan. Melalui narasi provokasi tersebut, masyarakat perlu lebih rasional dalam memilih pihak, apakah kubu oposisi yang terus membakar Indonesia dengan narasi kebohongan atau justru Kyai Ma’ruf Amin yang membawa kesejukan dengan tutur kata yang sopan. Jika anda tidak ingin Indonesia semakin terjebak dalam panasnya narasi kebohongan, maka anda tahu harus memilih siapa.

*) Mahasiswa FIFIP Universitas Dharma Agung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed