Taktik Jitu Pemerintah Antisipasi Kemacetan Mudik Lebaran

Oleh : Runavia Wulandari )*

Pemerintah telah memperhatikan sejumlah titik rawan kemacetan lalu lintas seperti di jalan tol Jakarta – Cikampek dan pintu keluar tol Terbanggi Besar di Tol Lampung – Palembang, dan lain – lain.

Seperti di tol Cikopo – Palimanan (Cipali), memiliki rencana taktis untuk mengurangi kemacetan arus mudik Lebaran. Mereka memperkirakan volume kendaraan pemudik yang memadati ruas tol Cipali tahun ini naik 12 % menjadi 1,73 juta kendaraan dari 1,54 juta kendaraan di tahun 2018.

Untuk itu, pengelola Lintas Marga Sedaya (LMS) selaku pengelola tol Cipali, akan menambah 14 gardu di Gerbang Tol Palimanan Utama. “Sehingga Tol Palimanan Utama. “Sehingga total yang dioperasikan mencapai 26 gardu, tambahan 10 mobile reader di Gerbang Tol Palimanan dan masing – masing 2 mobile reader di gerbang samping.

Puncak arus mudik akan diprediksi terjadi pada H-5 hingga H- 3 dengan perkraan lebih dari 100.000 pengendara. Sementara puncak arus balik diperkirakan terjadi pada H+3.

Untuk memperlancar rute mudik dari Jakarta ke Surabaya, beberapa titik sumber macet seperti Jakarta – Cikampek sudah dirancang untuk diurai.

Diantaranya, tol Cikarang utama yang akan memiliki 3 pintu yaitu keluar, sehingga tidak akan menumpuk di satu jalur.

Dirjen Perhubungan darat Kemenhub, Budi Setiyadi mengatakan, jalan tol eleveted II sudah dipastikan tidak bisa digunakan untuk mudik.

Terkait hal ini, ia meminta agar kontraktor yaitu PT Jasamarga menjauhkan alat berat dari lokasi dan menghentikan pengerjaan untuk sementara waktu.

“Tol Eleveted Jakarta – Cikampek kan tidak bisa digunakan mudik tahun ini. Sehingga Kemenhub juga sudah berkoordinasi juga dengan pihak kontraktor untuk rute bahwa dibersihkan, sehingga bisa dilalui pemudik,” tutur Budi.

PT Jasa Marga memprediksi sebanyak 1.383.830 kendaraan pemudik akan meninggalkan Jakarta melalui jalan tol pada saat arus mudik Lebaran 2019 berlangsung pada 29 Mei hingga 4 Juni mendatang.

Dari total prediksi tersebut, 58,68 persen diprediksi menuju ke arah Jawa Timur melalui Tol Jakarta – Cikampek. Sementara 26,68 persen kendaraan menuju ke arah Barat (Merak) melalui jalan Tol Jakarta – Tangerang.

Adapun sisanya, 14,64 persen diprediksi bergerak menuju ke arah Selatan (Puncak) melalui jalan Tol Jagorawi.

Untuk memperlancar arus kendaraan pemudik, Kementerian Perhubungan memberlakukan pula pengaturan waktu operasi angkutan barang. Pembatasan operasional angkutan barang tersebut berlaku pada periode arus mudik 30 Mei – 2 Juni 2019 dan saat arus balik 8 Juni – 10 Juni 2019.

Selain itu, pihak Jasa Marga juga berupaya menggandeng pemudik milenial dengan aplikasi Travoy, pihaknya berharap dengan adanya aplikasi tersebut para pemudik bisa dengan mudah menemukan fasilitas dan rute yang tepat.

“Dari riset yang kita lakukan bertahun – tahun ini, sebetulnya pain customersaat mudik itu Cuma 3, pertama kemacetan, kedua kepadatan arus dan yang ketiga adalah di rest area.

Aplikasi Travoy memiliki beberapa fitur untuk merencanakan mudik, sehingga orang bisa merencanakan jauh – jauh hari perjalanan mudiknya.

“Fitur ada di Travoy seperti Mudik Plan, Informasi Gerbang Tol serta Rest Area dikemas dengan fitur menarik lannya. Salah satunya pengguna jalan dapat memesan makanan dan minuman di rest area dengan menggunakan fitur eat N Go,” tuturnya.

Sekedar info, tersambungnya Tol Trans Jawa dan Merak hingga Probolinggo Timur sepanjang 977 Km pada mudik lebaran 2019 kali ini membuat masyarakat antusias untuk melakukan perjalanan mudik melalui darat. Terlebih dengan adanya diskon sebesar 15 persen untuk seluruh ruas tol pada 27 – 29 Mei dan 10 – 12 Juni 2019.

Untuk menuju ke kampung halaman, tentu akan lebih aman jika para pemudik menggunakan kendaraan umum, selain lebih aman hal ini merupakan salah satu langkah untuk mengurangi kemacetan yang ada.

Wali Kota Jakarta Selatan Marullah Matali telah memfasilitasi para pemudik asal Jakarta untuk memberikan ruang penitipan sepeda motor.

Rencananya, ruang – ruang penitipan motor tersebut disediakan di kantor keluaran dan kecamatan. Selain itu, menurut dia, sedang diupayakan Kantor Walikota menjadi Lokasi penitipan sepeda motor.

Sudah saatnya kita jadikan mudik sebagai sebuah keasyikan, dan menghilangkan stigma kemacetan, dan yang paling penting adalah mengutamakan keselamatan selama perjalanan menuju kampung halaman.

)* Penulis adalah kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed