Dampak Kebakaran di PMJ, Gedung Pemerintah Seharusnya Menjadi Model Bagi yang Lain

Prof Dr Manlian Ronald A Simanjuntak, ST MT DMin

Kebakaran yang terjadi pada bangunan gedung Polda Metro Jaya (PMJ) di hari Selasa 20 Agustus 2019 yang dimulai sekitar jam 05.00 di salah ruang tepatnya di ruang bawah tanah berukuran 4×3 m, bukanlah hal kecil. Bagaimana tidak? Bangunan Gedung Polda Metro Jaya adalah salah satu bangunan gedung vital di Kawasan Strategis Nasional Jakarta. Tidak hanya itu saja, bangunan gedung Polda Metro Jaya adalah bangunan gedung Pemerintah yang seharusnya menjadi model dan teladan bagi bangunan gedung lainnya.

Masih teringat di pikiran kita bangunan gedung Kementerian Perhubungan juga pernah terbakar beberapa waktu lalu. Yang vital terjadi pula beberapa tahun lalu Bangunan Gedung Binagraha yang adalah Kantor Presiden juga pernah terbakar. Masyarakat menantikan data dokumentasi bangunan gedung milik Pemerintah yang pernah terbakar.

Hal ini supaya menjadi jelas bagi kita semua, ketika kita menuntut bangunan gedung milik swasta harus andal terhadap bahaya kebakaran, seharusnya bangunan gedung pemerintah “harus” andal lebih dulu.

Mencermati potret kebakaran di salah satu ruang bangunan gedung Polda Metro Jaya, analisis sekaligus rekomendasi kritis sebagai solusi, yaitu:

Pertama, Bangunan Gedung Pemerintah dan Bangunan Gedung milik Swasta “memiliki standar yang sama” dalam mengutamakan Aspek Keandalan secara khusus Keselamatan Terhadap Bahaya Kebakaran.

Kedua, Sistem Proteksi Kebakaran yang “harus” dimiliki bangunan gedung Pemerintah maupun Swasta harus mencakup:
a. Sistem Proteksi Aktif
b. Sistem Proteksi Pasif
c. Fire Safety Management
Sistem Proteksi Aktif berbasis “energi” yang ditempelkan dan berfungsi pada bangunan gedung, mulai dari Sistem Detektor sampai dengan APAR (Alat Pemadam Api Ringan). Sistem Proteksi Pasif berbasis desain yang “built in” di seluruh elemen bangunan gedung. Sedangkan Fire Safety Management adalah “Human System” yang mengendalikan aspek Keselamatan terhadap bahaya kebakaran setiap hari. Dari ketiga hal ini, Indonesia “harus” mengutamakan Human System dimana peran Manusia yang tidak tergantikan seharusnya memiliki “budaya keselamatan”, sehingga hal urusan kebakaran seharusnya bukan hal baru. Pertanyaan bagi bangunan gedung Polda Metro Jaya, apakah memiliki Sistem Proteksi tersebut?

Ketiga, dari berbagai sumber yang dihimpun, ruang yang terbakar terjadi saat renovasi (Kompas 21 Agustus 2019 hal. 18). Apa dasar merenovasi? Apakah desain profesional sudah ada sebelum renovasi dan menjadi dasar terbitnya Revisi IMB? Apakah pelaku pembangunan profesional? Apakah Sistem Keselamatan terhadap Bahaya Kebakaran sudah dipersiapkan sebelum proses pembangunan dilaksanakan?

Keempat, siapa pengelola penyelenggaraan bangunan gedung Polda Metro Jaya? Pihak Internal atau ada Pihak Profesional? Mereka juga yang seharusnya lebih mengenal kasus ini lebih dulu tentang ruang mana yg memiliki potensi terbakar dari segi waktu dan dampak kerugian.

Kelima, isi bangunan gedung secara khusus dicermati memiliki potensi mudah terbakar. Hal ini sederhana namun “penting” yang harus dicermati. Dari pengamatan terhadap data isi ruang bawah tanah Polda Metro Jaya yang terbakar berisi bahan yang mudah terbakar, yaitu: material lama dari bahan terpal, material dari bahan kayu, dll.

Keenam, bangunan gedung harus memiliki Safety Officer, baik di tiap massa bangunan gedung maupun penanggung jawab keselamatan di tiap lantai. Apakah ruang yang terbakar di Polda Metro Jaya memiliki hal ini? Jika belum, maka “wajib” harus dibentuk.

Ketujuh, aspek psikologis pelayanan masyarakat dapat terpengaruh akibat kebakaran di Polda Metro Jaya ini. Walaupun terjadi di salah satu ruangan bawah tanah, dampak kebakaran ini membentuk opini yang dimungkinkan negatif.

Jangan sampai bangunan gedung Pemerintah terancam risiko akibat bahaya kebakaran. Pemda harus memastikan SLF (Sertifikasi Laik Fungsi) “wajib” dimiliki seluruh kategori bangunan gedung baik milik pemerintah maupun swasta.

Bangunan gedung pemerintah seharusnya menjadi “model dan teladan” tentang hal keselamatan terhadap bahaya kebakaran bagi bangunan gedung lainnya.***

•(Guru Besar Universitas Pelita Harapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed