Semangat Kemerdekaan dan Budaya Melawan Hoaks Dimulai dari Rumah

Oleh : Hendra Guntara

“Kemerdekaan Indonesia yang didapat dengan perjuangan dan pengorbanan, harusnya diisi dengan melawan hoax dan tidak memproduksi hoaks. Bukan malah menyebar dan menciptakan hoaks, yang pada akhirnya memecah belah keberagaman indah yang ada di Indonesia sejak dahulu kala. Anak jaman sekarang mulai berani menaburkan benih-benih penyebaran hoaks. Karena rata-rata dari mereka menjadi pengguna aktif internet.” ujar salah seorang rekanku yang kini mulai aktif dalam kampanye melawan hoaks di masyarakat. Hal ini adalah masalah yang harus dipikirkan oleh semua orangtua, bahwa memproduksi/ menyebarkan hoaks adalah tindakan negatif yang mencerminkan rasa tidak menghargai kemerdekaan yang telah diperjuangkan. Orang tua harus mampu memberi contoh, bagaimana cara mengisi kemerdekaan dengan bijak. Karena semangat kemerdekaan dan budaya melawan hoaks, dipelajari oleh anak-anak pertama kali di rumah, dari orang tua langsung.
Jika orang tua tidak menerapkan pola hidup melawan hoaks sejak dini, maka anak-anak yang berada dalam keluarga tersebut, juga akan mewarisi budaya negatif tersebut. Begitu pun sebaliknya, jika orang tua sejak dini mengajarkan pola hidup melawan hoaks, maka anak-anak akan melakukan hal yang sama, dan nantinya akan mengakar pada diri mereka hingga menjadi kebiasaan sampai dewasa. Semakin banyak orang tua yang sadar dan memahami manfaat melawan hoaks serta mengaplikasikannya, maka akan semakin banyak pula generasi muda yang mencontoh serta menerapkan budaya positif tersebut.
Sebagai orang tua, kita perlu memahami dampak yang akan ditimbulkan oleh hoaks. Seperti merugikan suatu pihak, memberikan reputasi buruk akan seseorang/sesuatu, menyebarkan fitnah, menyebarkan informasi yang salah, memicu perpecahan, membuang-buang waktu dan uang, penipuan publik, serta pemicu kepanikan publik. Hal ini tentu secara langsung berpengaruh pada psikologis masyarakat, yang membuat kita pada umumnya tidak percaya lagi pada sebuah fakta yang disajikan. Karena hoaks telah merasuki alam bawah sadar seseorang untuk tidak mudah mempercayai sebuah fakta, hingga menimbulkan ketidakyakinan.
Fakta ironi lainnya adalah seperti yang disampaikan oleh Akademisi Komarudin Hidayat (mantan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta) dalam www.kominfo.go.id. Bahwasannya momok dari penyebaran berita bohong atau hoaks tak ubahnya seperti peredaran narkotik dan pornografi. Bila dibiarkan, kata dia, berita hoaks bisa membahayakan dan merugikan masyarakat. Hoaks yang termasuk dalam tindakan kriminal di wilayah cyber ini, merupakan perpaduan antara manipulasi, kebohongan, dan kecurangan yang dapat menjatuhkan orang lain.
Tak cukup itu saja, hoaks ternyata menggunakan perasaan manusia sebagai obyek dan alat untuk memicu suatu reaksi. Sehingga mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal-hal bodoh karena perasaan ingin membantu, cemas, takut, kasihan, dan marah. Maka teknik social engineering seperti penggunaan hoaks untuk kepentingan tertentu sering kali berhasil. Tak heran jika hoax dalam dalam Oxford English Dictionary didefinisikan sebagai malicious deception atau kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat. Sedangkan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), hoaks diartikan sebagai berita bohong.
Para orangtua di Indonesia harus menyadari bahwa dengan melawan hoaks ternyata bisa menyelamatkan anak-anak kita dari fitnah, perpecahan, penipuan, kerugian waktu, dan bahaya lainnya. Dengan begitu, para orang tua akan memiliki motivasi untuk membiasakan diri dan keluarganya dalam melakukan perlawanan terhadap hoaks. Orang tua bisa mengajarkan pada anak-anak untuk melawan hoaks sedini mungkin dengan berbagai cara sederhana. Seperti:

  1. Tanamkan gemar membaca di rumah
    Melek literasi dan gemar membaca, sangat berpengaruh pada anak untuk melawan hoaks sedini mungkin. Biasakan menyediakan bacaaan yang disukai anak di rumah, kenalkan anak pada buku, buatlah rutinitas membaca yang menyenangkan. Jika anak gemar membaca, maka judul-judul bombastis yang sering dibuat oleh media (menjadi sebab hoaks), tidak akan berpengaruh pada orang-orang yang membiasakan membaca isi berita.
  2. Latih anak untuk bijak menggunakan sosial media
    Anak genarasi sekarang memang tidak akan lepas dari sosial media, maka dari itu orang tua berperan penting dalam mendidik anak untuk bersosial media sehat. Seperti menggunakan sosial media sesuai kebutuhan, tidak memposting hal-hal yang tidak penting, tidak memposting hal yang tidak memiliki sumber berita valid, serta lebih mengaktifkan anak di dunia nyata daripada di dunia maya.
  3. Latih anak untuk lebih kritis saat menerima informasi
    Ajarkan anak untuk lebih memahami klarifikasi dan verifikasi. Serta tidak mudah percaya dan menyebar sebuah berita dengan gegabah. Orangtua juga mengikutsertakan anak-anak dalam kegiatan menyaring informasi dalam keluarga. Seperti orang tua melibatkan anak ketika ingin mengetahui dan mengecek sebuah berita termasuk dalam hoaks atau tidak. Bisa dengan cara mengenalkan laman www.data.turnbackhoax.id yang berfungsi sebagai database berisi referensi berita hoaks.
  4. Memahami bersama tentang bahaya dan dampak hoaks
    Orang tua juga perlu menanamkan bahwa hoaks berbahaya dan selalu memiliki dampak buruk. Dengan memberi pengertian yang baik pada anak, seorang anak akhirnya memeiliki motivasi dan alasan yang kuat mengapa ia harus berpartisipasi dalam melawan hoaks.
  5. Memberi contoh melawan hoaks
    Orang tua bisa memberi contoh pada anak dalam melawan hoaks dengan aktif untuk mengungkap hoaks-hoaks yang beredar. Tentu dengan mempertimbangkan kelima hal berikut: hati-hati dengan judul provokatif, cermati alamat situs, periksa fakta, cek keaslian foto, dan ikut serta grup diskusi anti-hoaks.
  6. Melawan hoaks dengan melaporkan hoaks
    Jika orang tua dan anak sudah berhadapan langsung dengan hoaks, maka orang tua perlu mengajari anak untuk jangan diam saja. Melawan hoaks bisa dengan melaporkan hoaks tersebut, agar tidak semakin menyebar. Seperti:
    a. Untuk media sosial facebook, gunakan fitur report tatus dan kategorikan informasi hoaks sebagai hatespeech/ harrasment/ rude/ threatening, atau kategori lainnya yang sesuai.
    b. Untuk google, bisa menggunakan fitur feedback untuk melaporkan situs dari hasil pencarian apabila mengandung informasi palsu atau hoaks.
    c. Untuk twitter memiliki fitur report tweet untuk melaporkan tweet yang mengandung konten negatif atau hoaks.
    d. Untuk Instagram, pilih laporkan. Kemudian tentukan alasan pelaporan. Lalu akan muncul halaman terima kasih dari instagram.
    e. Untuk pengguna internet bisa mengadukan konten negatif ke Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan mengirimkan e-mail ke alamat aduankonten@mail.kominfo.go.id.
    f. Untuk pengguna internet juga bisa mengunjungi laman www.data.turnbackhoax.id yang menampung aduan hoax dari netizen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed