Strategi Licik Separatis Papua Tebar Isu Rasisme Diskreditkan Pemerintah

Oleh: Albert Tude )*

Baru-baru ini kita mendengar banyaknya pemberitaan di media massa terkait tindakan rasisme di Tanah Papua. Kerusuhan yang ditengarai oleh opini yang belum dipastikan kebenaranya ini ternyata menimbulkan efek yang begitu miris.

Memanfaatkan isu rasisme sebagai salah satu pencetus kerusuhan agaknya merupakan tindakan yang tidak terpuji. Selain menimbulkan kerugian secara materiil, juga spiritual. Trauma kejadian memilukan yang secara jelas tergambar jika persatuan Indonesia tampaknya belumlah terwujud secara menyeluruh. Masih saja terdapat beberapa oknum yang dengan sengaja memanfaatkan situasi guna kepentingan lainnya.

Moeldoko, selaku Kepala Staf TNI Angakatan darat menilai rasisme yang timbul akibat OPM kehilangan pengaruhnya. Serta adanya suatu kelompok bersenjata dan poros politik yang memanfaatkan isu ini.

Paradoks keterkaitan antara isu rasisme dengan rencana pembangunan Papua ini bergulir. Pemerintah meningkatkan pembangunan Papua dengan tujuan agar masyarakat Papua bisa seperti masyarakat lainnya. Meskipun, nyatanya terdapat kelompok-kelompok baik dalam pergerakan poros politik, maupun kelompok dengan pergerakan poros bersenjata. Hal ini menimbulkan gangguan serta kecemasan yang nyata di depan mata.

Moeldoko juga menanggapi jika isu rasisme ini diusung sebagai latar belakang kerusuhan yang beberapa hari terakhir ini. Dia menyatakan kemungkinan dua kelompok tersebut tidak menyukai kemajuan Papua. Implikasinya, Papua tidak akan mempunyai nilai jual ke luar negeri jika kemajuan terjadi di tanah ini.
Sebagai contoh, daerah Papua yang dibangun nyatanya mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakatnya. Sehingga pengaruh akan kelompok ‘bersenjata ini tentunya akan berkurang bahkan menghilang.

Begitu juga dengan kelompok poros politik, jika kemajuan meliputi Papua, maka kelompok poros politik tidak dapat berkutik. Yakni, kelompok ini akan gagal menjual isu kaum termarjinalkan di Papua.
Indikator ini sebetulnya telah terbaca sebelumnya. Yakni, saat pembangunan jalan saja sudah diganggu. Pendidikan infrastruktur pendidikan-pun pernah ditangkap. Adapula sekarang ini masih terlihat adanya upaya-upaya yang menjurus ke arah sana. Yakni, gedung-gedung yang seharusnya dilindungi nyatanya malah dibakar. Dari sini kita tahu memang tanda-tanda itu telah muncul.

Moeldoko pastikan kecemasan yang nyata bagi kelompok bersenjata maupun poros politik tidak menyetujui kemajuan di Papua. Ia juga memperjelas pendapatnya jika OPM termasuk ke dalam salah satu kelompok tersebut. Tanda kepastian ini ia kemukakan terkait pengibaran bendera bintang kejora saat terjadi kerusuhan

Namun pihaknya bersyukur sebagian besar masyarakat tidak ikut terpancing ke dalam arus provokasi ini. Serta para penjabat berwenang yang dinilai sangat bijaksana menghadapi kondisi ini. Moeldoko menambahkan jika Poros OPM ini juga mengkapitalisasi isu rasisme agar kerusuhan yang mereka sulit terkesan memiliki alasan yang kuat.

Latar belakang pendirian OPM ini memang telah banyak menerima kecaman dari berbagai pihak. Padahal sebelumnya gerakan ini lahir dari spiritual bawah tanah yang anti kekerasan. Namun, agaknya banyak pihak yang kecewa akibat organisasi ini. Bermula dari Aser Demotekay yang merupakan Kepala Distrik Demta, Kabupaten Jayapura. Diam-diam ia melakukan kegiatan kelompok kebatinan kepercayaan adat dan kristiani.

Meski menuntut kemerdekaan wilayah Papua, pihak Aser sangat kooperatif dengan Indonesia. Pihak Aser meminta kepada Indonesia untuk menyerahkan kemerdekaan kepada Papua sesuai janji Alkitab. Serta Janji leluhur, dan janji tanah Papua. Yakni bahwa bangsa Papua Barat adalah bangsa paling akhir menuju akhir zaman.
Gerakan Aser ini bercorak kultus kargo, namun pergerakannya sangat rahasia dan berada dibawah tanah. Namun terdapat adanya indikasi apakah pergerakan kultus kargo ini sama dengan yang berada di Papua Nugini atau Mikronesia.

Jacob Prai salah satu pengikut gerakan ini ditengarai menonjol dan melanjutkan pergerakan ini. Namun agak disesalkan Jacob Prai menggunakan cara yang radikal untuk mempertahankan diri guna mewujudkan cita- citanya.

Tindakan semacam inilah yang kemungkinan mampu menyulut adanya indikasi kekerasan selanjutnya. Meski tergolong ke dalam aksi pembelaan dan pertahanan diri, hal ini dirasa akan berbahaya bagi pihak diluar organisasi terkait.

Dalam kaitannya isu rasisme yang ditengarai bisa memecah persatuan ini harusnya dihadapi dengan kepala dingin. Menelisik lebih dalam serta tetap waspada akan berbagai kemungkinan. Ada baiknya sebagai warga negara Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, haruslah diterapkan didalam kehidupan.

Hindari aneka organisasi yang berdampak negatif atau berkelompok dan rahasia. Tetap tenang merespon segala aneka provokasi yang mencuat. Semoga kerusuhan akibat isu rasisme di Manokawari Papua bisa dijadikan pelajaran. Agar kedepannya kita sebagai bangsa Indonesia bisa lebih arif dan bijaksana dalam menghadapi hal serupa kedepannya.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua, tinggal di Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed