Green Belt Conservation, Bupati Tangerang Ajak Masyarakat Menjaga Ekosistem Keseimbangan Alam

TangerangSatu.co.id KABUPATEN TANGERANG – Green Belt Conservation yang dilakukan para mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) dapat menggugah hati untuk menjadikan kita bagian agen perubahan lingkungan dengan komitmen terus menerus menjaga ekositem keseimbangan alam kita. Sehingga dalam waktu panjang, manfaat alam ini dapat dirasakan oleh anak cucu kita di masa depan.

Penegasan itu ditegaskan Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar di hadapan para mahasiswa IPB yang melakukan kegiatan penanaman mangrove dan diskusi lingkungan hidup di Desa Patra Manggala Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang, Minggu pagi 25 Agustus 2019 yang disampaikan melalui Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Pertamanan Kabupaten Tangerang, Asep Jatnika.

Acara itu dihadiri pula instansi swasta yang selama ini banyak berperan mendukung penanaman mangrove di kawasan Patra Manggala dan Hari Mahardika dari Dinas Perikanan Kabupaten Tangerang. Hari Mahardika dikenal sebagai sosok yang tetap gigih melakukan reboisasi kawasan pesisir utara Kabupaten Tangerang.

“Mari bersama-sama kita beriksn timbal balik yang baik untuk alam kita. Karena kalau bukan kita, siapa lagi? Saya mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Tangerang untuk ikut andil dalam upaya perlindungan dan pengendalian lingkungan hidup,” ungkap Bupati Tangerang, Ahmad Zaki Iskandar dalam amanat tertulisnya.

Sementara itu Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup dan Pertamanan Kabupaten Tangerang dalam paparannya menjelaskan Dinas Perikanan dengan Dinas Lingkungan Hidup selalu bersinergi dalam penanaman mangrove. Menurut Asep Jatnika, mangrove ini sangat baik sekali bagi ekologi maupun ekonomi.

Hari Mahardika dari Dinas Perikanan Kabupaten Tangerang mengatakan Green Belt Conservation 2019 melakukan penanaman 7500 bibit mangrove di Patra Manggala. Para mahasiswa bersinergi dengan masyarakat Patra Manggala untuk terus menjaga kelestarian lingkungan.

“Dari tahun 2014 kami telah melakukan penanaman 200 ribu batang mangrove di area ini. Kini, secara ekonomi sudah terasa manfaatnya oleh masyarakat, bandeng tidak terasa aroma lumpur,” jelas Hari Mahardika.

Ketua Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK IPB, Rafialwan Athariq Subing menjelaskan kawasan hutan mangrove di Pulau Jawa bigian utara umumnya dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar hutan menjadi sylvofishery.

Sistem sylvofishery, jelas Rafialwan yaitu pemanfaatan lahan secara optimal dan lestari dengan cara mengkombinasikan kegiatan kehutanan dan pertanian perikanan di dalam suatu andil, yang dalam hal ini budidaya ikan bersamaan dengan penanaman, pemeliharaan dan pelestarian hutan.

“Ini adalah salah satu kegiatan tahunan sejak 2014. Tahun ini kami menanam mangrove di Desa Patra Manggala. Di sini ada kelompok nelayan yang peduli terhadap mangrove. Kami berharap mangrove di sini bisa tumbuh subur kembali,” ungkap Rafialwan Athariq Subing.***

Ateng Sanusih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed