Kemerdekaan Diri dalam Menumpas Gurita Hoax: Upaya Membebaskan Keterjajahan Bangsa di Era Modern

Oleh : Lufaefi

Dua tahun terakhir sejak dimulainya kampanye pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta (2017), negara kita; Indonesia, digempur dengan isu-isu hoax. Hoax menjadi konsumsi masyarakat tanpa mengetahui asal-usulnya dan menelannya mentah-mentah tanpa merasakan pahit sedikitpun. Modus operandinya (hoax) disebarkannya berita bohong, yang ditujukan untuk menebar kebencian, provokasi, dan pencemaran nama baik individu atau kelompok tertentu. Mengutip data dari Kemterian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) RI, berita hoax yang gencar diproduksi selama tahun 2017 telah tercatat sebanyak 3.252 melalui Twitter, dan 1.204 melalui Google dan YouTube. Jejaring gurita hoax telah menyebar ke sekujur tubuh bangsa.
Mengutip Artikel Republika yang ditulis oleh Dian Puspita Sari, Member Penulis Kreatif, yang berjudul Hak Kemerdekaan dan Muslim yang Terjajah (2019), dikatakan bahwa di era modern sekarang kondisi negara-negara dunia, khususnya negara berpenduduk mayoritas muslim, sedang mengalami keterjajahan. Salah satu keterjajahan tersebut adalah terjajah oleh berita-berita bohong yang berujung pada hancurnya persaudaraan dan persatuan. Menurut Dian dalam Artikelnya, hoax yang berkelindang di negara-negara termasuk di Indonesia itu tak jarang memicu bentrok, bahkan perang antar saudara sebangsa dan seagama, serta menghambat pembangunan suatu negara.
Dalam konteks keindonesiaan, peristiwa naas di atas (hoax) tentu akan berefek negatif dan membahayakan bagi utuhnya persatuan dan kebangsaan. Jika hoax tidak segera dipangkas habis-habis, maka akan menjalar ke seluruh tubuh bangsa dan hanya akan membentuk manusia-manusia kerdil dan penuh tipu muslihat, yang enggan peduli dengan masa depan bangsa dan negaranya. Selama hoax tidak dibasmi dalam jiwa bangsa Indonesia, maka perpecahan antar masyarakat akan terus meningkat, dan berujung pada lahirnya pemikiran-pemikiran rasis dan diskriminatif. Puncaknya, hoax akan menggagalkan visi besar negara dan bangsa dalam mewujudkan pembangunan, keberhasilan kepemimpinan negara, dan hanya akan membuatnya tercabik-cabik dalam keterjajahan di era modern.
Lantas, bagaimana untuk menyudahi penyakit hoax yang telah memanas di tubuh bangsa? Seperti apa upaya konkrit bagi bangsa dalam mewujudkan kembali budaya kejujuran dan menepis segala macam bentuk hoax?
Kunci utama untuk melerai berita bohong adalah ‘kemerdekaan diri’. Ya, memerdekakan diri dalam banyak hal, seperti merdeka dengan tidak mudah terpancing berita-berita yang tidak jelas sumber dan referensinya. Masyarakat harus memiliki kemerdekaan diri dengan tidak selalu menelan mentah-mentah berita-berita yang dibacanya melalui media sosial. Sensitifitas yang tinggi dengan meng-check sumber setiap berita menjadi kunci kemerdekaan diri dalam persoalan ini. Dan sebaliknya, diri yang tidak merdeka adalah diri yang selalu menjual akal sehatnya untuk meyakini dan menyebarkan berita-berita yang tidak jelas kapasitas sumbernya.
Upaya selanjutnya untuk menghindari penyakit berbahaya hoax adalah memerdekakan diri dengan tidak terpancing emosi dengan berita-berita yang berbau politik praktis. Sebagaimana dilansir Detik.com (2018), isu hoax memuncak tinggi manakala datang tahun-tahun politik. Di waktu itulah politikus yang kerdil sangat memungkinkan meracik berita-berita yang mendiskreditkan lawan dengan memunculkan narasi-narasi kebohongan untuk menarik simpatik dan emosional masyarakat. Maka, memerdekakan diri dengan tidak tersulut emosi politik adalah cara ampuh menghindari hoax dalam persoalan ini. Menjadi diri yang merdeka adalah merdeka dari provokasi-provokasi berita politik praktis yang hanya menyulut api keterjajahan di negeri sendiri.
Salah satu ciri berita bohong biasaanya memasang judul dengan narasi kebencian atau menampilkan gambar yang bisa menarik simpatik emosional pembacanya. Kebiasaan masyarakat dalam membaca berita hanya berhenti pada membaca judul dan melihat foto yang menyertainya. Diri yang tidak merdeka biasanya langsung meng-share berita-berita model di atas tanpa membacanya secara utuh dan melihat sejauh mana otoritas sumbernya. Sebagai upaya yang berikutnya bahwa, kemerdekaan diri dalam persoalan yang ketiga ini sangat urgen. Menjadi diri yang merdeka dalam problem ketiga ini ialah dengan cara membaca berita secara utuh dan kritis terhadap konten secara keseluruhan. Dengan begitu, seseorang akan terbebas dari keterjajahan diri yang ditimbulkan melalui berita-berita bohong.
Cara-cara di atas adalah upaya mudah untuk menumpas gurita hoax yang mewabah ke mana-mana. Memerdekakan diri untuk tidak menjadi Netizen yang gampangan dalam menerima berita adalah kunci sederhana untuk menumpas hoax yang bisa dimulai dari diri setiap individu anak bangsa. Kemerdekaan diri dalam bentuk merdeka dari meyakini berita yang tidak jelas sumbernya, merdeka dari tersulut isu-isu politik praktis, dan merdeka dari tidak membaca berita secara utuh dan kritis, adalah kunci-kunci penting untuk menumpas gurita hoax.
Akhirnya, ketika individu-individu bangsa telah terbebas dari berita-berita hoax, maka derita keterjajahan suatu bangsa di era modern dengan sendirinya akan sirna. Tenun persatuan dalam bangsa akan terus terjaga untuk menciptakan suatu bangsa yang luhur dalam budi yang anggun. Puncaknya, pembangunan Sumber Daya Masyarakat (SDM) untuk kemajuan suatu bangsa akan tercapai secara otomatis. SDM yang bersih adalah yang suci dari kekerdilan dan kebohongan. SDM seperti demikian adalah SDM unggul yang dapat memacu suksesnya pembangunan dan mendorong keberhasilan kepemimpinan negara Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed