Generasi Milenial Menjaga Persatuan NKRI


Oleh : Anggie Tri Agusti
Mahasiswi Universitas Bakrie

Pada awalnya manusia bertukar informasi melalui bahasa, dengan bertukar informasi secara langsung melalui percakapan sehari – hari. Namun, seiring perkembangan teknologi, informasi saat ini, manusia mau tidak mau harus mengikuti perkembanganya dan pesatnya perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi. Kemajuan teknologi tersebut dapat membawa dampak negatif maupun positif terhadap kehidupan manusia. Salah satu dampak negatif dari pesatnya perkembangan teknologi adalah membuat publik semakin mudah mengakses beragam informasi dan berita hanya dalam genggaman tangan. Berita bohong pun dapat ikut tersebar dengan mudah dan mampu mempuat siapa saja yang membaca atau mendengar langsung mempercayainya dan hal yang dapat memperburuk situasi ini adalah masyarakat terlalu malas untuk mencari tahu tentang kebenarannya namun sangat bersemangat untuk membagikan kabar burung itu seluas-luasnya. Hal ini dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena dapat memecah kesatuan dan persatuan Indonesia ditengah kemajuan teknologi komunikasi.

Generasi milenial, atau generasi Y (teori William Straus dan Neil Howe) yang saat ini berumur antara 18–36 tahun, merupakan generasi di usia produktif. Generasi yang akan melanjutkan perjuangan dalam menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Karena hal ini generasi milenial dijadikan sebagai sasaran untuk memasukkan paham radikalisme. Dimulai dari keingintahuan yang besar berujung pada kesalahan dalam pencarian referensi dapat menjerumuskan generasi milenial dalam fanatisme yang berujung radikal.

Masih segar dalam ingatan, bagaimana pesta demokrasi Indonesia tahun 2019 seakan menjadi ajang untuk saling melemparkan provokasi, ujaran kebencian, dan berita bohong kepada kedua belah pihak. Kini pesta demokrasi telah usai, Mahkamah Konstitusi telah menetapkan hasil pemilihan umum dan baik pasangan calon terpilih maupun yang tidak terpilih sudah menerima hasil dari keputusan Mahkamah Konstitusi dilihat dengan adanya pertemuan kedua belah pihak untuk mengadakan rekonsiliasi. Hal ini seharusnya dapat dicontoh oleh pendukung dari kedua belah pihak. Jika kedua calon pemimpin yang telah dibela mati-matian oleh para pendukungnya saja sudah berekonsiliasi, maka sudah saatnya pula para pendukung untuk saling berdamai. Jangan sampai perbedaan pilihan ini memberikan celah bagi paham radikalisme untuk masuk dan menyerang ke dalam tubuh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Indonesia merupakan Negara yang sangat luas, terbentang dari Aceh hingga Papua. Maka tidak heran jika Indonesia memiliki keberagamannya mulai dari agama, suku dan ras. Keberagaman ini pula yang menjadi alasan diubahnya teks Piagam Jakarta yang awalnya berbunyi sebagai berikut “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Untuk menghargai keberadaan saudara kita lainnya yang berada di Timur Indonesia dimana sebagain besar bukan beragama Islam, maka poin dalam Piagam Jakarta tersebut diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” pada Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.

Hal ini menunjukkan bahwa para pahlawan telah bersusah payah dalam menjaga persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka tidak memaksakan kehendak ataupun kepentingan satu golongan tertentu. Hal ini seharusnya dapat menjadi contoh bagi kita.
“Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri,” itulah yang pernah dikatakan Ir Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia.

Kata-kata Ir Soekarno kemungkinan besar memang benar adanya. Mungkin juga beliau sudah melihat tanda-tanda bagaimana kita kini memiliki tabiat yang tidak biasa. Perjuangan bertahun-tahun melawan penjajah memang telah usai. Para penjajah berhasil diusir dari Indonesia. Namun perjuangan kita belum benar-benar selesai. Persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia harus tetap dijaga dan dipertahankan. Sebab jika tidak terkelola akan terjadi malapetaka dan kehancuran serta perpecahan dimana-mana. Dengan semangat perjuangan yang di wariskan oleh para pahlawan mari generasi milenial mengisi kemerdekaan Indonesia dengan menjaga persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dapat dilakukan dengan cara memperkuat idealisme, nasionalisme, dan kecintaan kita terhadap negara ini. Dan juga janganlah kita dengan mudahnya terjerumus ke dalam berita bohong dan provokasi yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. NKRI HARGA MATI!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed