Masyarakat Serempak Tolak Papua Lepas dari NKRI

Oleh: Abner Kosay )*

Gerakan demonstrasi serempak dilakukan di beberapa kota di Indonesia, guna menolak Papua lepas dari NKRI. Beragam seruan ajakan perdamaian turut digaungkan seiring berkobarnya semangat persatuan.

Apa yang akan dirasakan ketika salah satu bagian tubuh kita menghilang? Atau meninggalkan fungsinya? Tak mau dan tak rela bukan? Lalu bagaimana perasaan warga Indonesia ketika mendengar rakyat Papua kukuh ingin melepaskan diri? Ya, tak rela dan tak mau tentunya.

Sehubungan dengan hal ini, beberapa kota di Indonesia serempak gelar aksi demo, tolak Papua Lepas dari NKRI. Kota-kota tersebut antara lain : Jawa Barat, Solo, Makassar, juga disusul kota-kota lainnya.

Di wilayah Jawa Barat sendiri, aksi demonstrasi ini dihadiri oleh seratusan warga yang tergabung ke dalam aliansi Padjajaran. Mereka menggelar aksi peduli Papua tepatnya di depan Gedung Sate, Bandung.

Mereka berorasi bahwa warga Jabar tak akan merelakan jika Papua Lepas dari NKRI. Dengan tegas mereka menolak Papua Merdeka. Dengan mengibarkan bendera merah putih mereka juga meneriakkan yel-yel dengan tagline “Papua NKRI, NKRI Papua!”

Massa juga mengutarakan keprihatinan mereka terhadap kejadian Timor Timor beberapa tahun silam. Mereka tak ingin jika kejadian semacam ini menimpa Papua. Cukuplah Timor-Timur menjadi pembelajaran bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sejumlah spanduk yang bertuliskan kecaman serta beberapa ajakan damai yang berlokasi di Patung Ir. Soekarno. Tulisan-tulisan tersebut diantaranya berbunyi, “Papua Bagian dari kita, lawan Rasisme, Cipta Karsa juga aneka tulisan bernada serupa.

Sementara di wilayah Solo aksi serupa juga terjadi. Sebelumnya aksi digelar di Bundaran Gladag, Jalan Slamet Riyadi. Namun karena alasan keamanan akhirnya dipindah di Plasa Manahan, yang bersebelahan dengan Mapolresta.

Rahmad Hendro Saputro, selaku koordinator aksi di Solo ini menyatakan jika seluruh elemen masyarakat harus menjalin persatuan dan persatuan. Yang mana berasaskan nilai-nilai kemanusiaan tanpa adanya tindakan yang melanggar HAM, maupun rasialis didalam masyarakat.

Hendri juga menyatakan jika Aliansi Mahasiswa Unisri Bersama GMNI dan PMII Komisariat Unisri mengecam keras tindakan persekusi, rasisme, serta represifitas terhadap mahasiswa Papua di Surabaya.

Mahasiswa Unisri Solo ini menuntut agar pemerintah serta seluruh aparat penegak hukum segera pecahkan permasalahan ini. Dengan mengadili pelaku tindakan rasis sesuai hukum yang berlaku. Sebagai efek jera agar tidak ada lagi kejadian serupa terulang kembali.

Selain itu mahasiswa Unisri Solo turut mengajak warga kota Solo serta semua lapisan masyarakat untuk ikut mewujudkan kehidupan aman dan damai. Yang mana tidak perlu menggunakan perlakuan diskriminatif maupun rasisme.

Berpindah dari Solo, sejumlah aksi dari Aliansi Bangsa Cinta NKRI dilakukan di depan monumen Nasional Pembebasan Irian Barat. Masih berorasi tentang Papua, yang mana meminta secara total merangkul Papua karena merupakan bagian dari NKRI.

Massa menyatakan jika yang terpenting ialah fokus pada kerusuhan serta pihak-pihak yang menginginkan Papua Merdeka. Pihaknya juga meminta Pemerintah tegas menyikapi pelaku tindakan rasisme yang mana menginginkan Papua terpecah dari Indonesia.

Rey Gunarmin selaku koordinator aksi ini berorasi menolak keras upaya adu domba serta provokasi melalui isu rasisme. Ia menambahkan bahwa Papua merupakan bagian dari NKRI yang tidak akan bisa dilepaskan. Sehingga pemerintah wajib mempertahankan Papua sebagai bagian dari NKRI, dan bukan Papua Merdeka.

Di sisi lain, Wilayah Papua tersorot oleh salah satu tokoh Pemuda Papua Barat, Dedei Imbiri. Dedei meminta agar warga Papua tidak terhasut oleh isu yang berkembang terkait rencana demo massa KNPB.

Dedei Imbiri menyatakan atas nama tokoh pemuda, budayawan serta kaum perempuan orang Papua Asli menyayangkan situasi politik dimana hanya difungsikan sebagai hasutan orang Papua agar mudah terjebak. Tokoh Pemuda yang Pro NKRI ini juga mengharapkan seluruh Pemuda Papua berpikir cerdas serta jernih dalam menyikapi upaya penghambatan kemajuan serta perkembangan wilayah Papua.

Dia melanjutkan, bahwa akses teknologi yang dinilai sangat mudah ini harusnya juga digunakan secara lebih baik lagi. Sehingga kita semua tidak ikut larut kedalam berita yang belum tentu kebenarannya. Termasuk bersikap bijak dalam menanggapi isu-isu yang mungkin merugikan kita semua.

Berkaca kepada hal tersebut, maka tidak ada yang menginginkan Papua Lepas dari wilayah Zamrud Khatulistiwa. Karena memang pada dasarnya Papua adalah satu tubuh dengan NKRI ini. Dengan demikian, sebagai masyarakat sudah sebaiknya kita kembali merajut persatuan dan mewaspadai seluruh ancaman yang bermaksud memecah belah Indonesia.

)* Penulis adalah Mahasiswa Papua, tinggal di Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed