Situasi Kembali Kondusif, Damailah Papua

Oleh: Edward Krey )*

Dampak rusuh aksi massa di Papua kini telah surut dan dipastikan kondusif. Namun berbagai pihak terus mencermati perkembangan terkini agar stabilitas keamanan segera kembali seperti sedia kala.

Aksi demo tempo hari di beberapa kota di Papua tampaknya sudah mulai mereda. Semua masyarakat telah kembali beraktifitas seperti sedia kala. Pusat perbelanjaan mulai beroperasi serta fasilitas publik mulai diperbaiki.

Meski keadaan telah aman dan kondusif, pemerintah tidak berdiam diri. Hal ini terbukti dari Kapolri beserta Panglima TNI langsung turun tangan pastikan keadaan di Papua. Mereka terbang menuju wilayah Papua dan Papua Barat. Mereka beragenda akan berdialog dengan tokoh masyarakat di sana.

Dialog ini bertujuan guna menjamin keamanan serta situasi agar kembali seperti sedia kala. Kabar baiknya, Kapolri beserta Panglima TNI akan berkantor di Papua serta Papua Barat hingga kondisi betul-betul stabil.

Disebutkan pula jika mereka hendak berada disana sekitar 4 hingga 10 hari. Namun, hal ini tergantung situasi maupun kondisi disana. Jenderal Tito Karnavian menegaskan jika kondisi Papua telah aman dan kondusif tak lepas dari upayanya menerjunkan ribuan personil gabungan Polri dan TNI.

Sehingga Ia pastikan keadaan lebih stabil aman terkendali. Apalagi Ia juga berencana untuk menggelar kekuatan tambahan kurang lebih 6000 personil untuk bumi Cendrawasih tersebut. Jika sekiranya masih kurang maka pengamanan akan diperketat dan ditambah lagi.

Terkait alasan mengapa Kapolri dan TNI turun tangan tak lain ingin memastikan sendiri keadaan di Tanah Papua secara lebih jelas dan mendetil. Pihaknya juga berjanji akan menindak tegas bagi siapapun yang berbuat anarkis maupun rusuh.
Di sisi lain, berita terkini disebutkan jika terdapat 300 an warga Wamena Papua yang tertipu akan koordinator massa yang berakhir ricuh tempo hari. Mereka menyatakan untuk berkomitmen tidak akan ikut lagi aksi demonstrasi dalam bentuk apapun.

Mereka merasa terprovokasi oleh oknum yang tidak bertanggungjawab terkait isu rasisme yang ramai beberapa waktu lalu. Dalam keterangannya, Kapendam XVII/Cenderawasih, Letnan Kolonel CPL Eko Daryanto menyatakan 300 an orang ini sempat bersembunyi di Numbay, Jayapura. Mereka mengutarakan penyesalan mereka, serta mengaku takut untuk kembali ke wilayahnya di Abepura dan Waena.

Mereka mengatakan jika alasan mereka bersembunyi ialah kekhawatiran akan aksi balasan dari masyarakat yang menjadi korban kerusuhan. Yakni, korban penjarahan, pembakaran serta perusakan saat demo yang berakhir rusuh tempo hari.

Pada hari minggu siang, terdapat perwakilan dari kelompok tersebut menemui Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua. Ia meminta bantuan kepada Bapak Desman Kogaya untuk memberikan jaminan keamanan serta alat transportasi guna mengangkut mereka kembali ke daerahnya masing – masing.

Kodam XVII/Cenderawasih sudah menyiapkan kurang lebih 15 truk TNI/Polri untuk memulangkan massa tersebut. Evakuasi dibagi menjadi 2 gelombang, yakni gelombang pertama diangkut sebanyak 116 orang serta gelombang kedua sekitar 172 orang.

Proses evakuasi serta pemulangan massa yang dikawal ketat oleh Kodam XVII/Cenderawasih dan Polda Papua berjalan dengan lancar. Ditemukan satu orang yang diduga sebagai pelaku penjarahan. Hal ini terbukti oleh ditemukannya kunci sepeda motor baru di sakunya. Namun segera diamankan di Polres Jayapura.

Kondisi ini dirasa lebih menenangkan, situasi telah stabil karena pengamanan ekstra dari aparat serta pemerintahan. Disisi lain, banyak pihak yang sadar aksi mereka hanya akibat dari hasutan oknum tak bertanggung jawab. Terlebih adanya pengakuan penyesalan serta meminta maaf jika massa yang melakukan perusakan tersebut tidak akan terprovokasi lagi.

Hal yang juga merupakan kabar menggembirakan adalah gerak cepat seluruh elemen masyarakat yang kompak mendinginkan keadaan. Baik dari pemerintah, tokoh pemuda maupun masyarakat lainnya. Meksi tak dipungkiri mereka harus berjibaku ditengah isu-isu yang disulut guna memperkeruh suasana.

Dengan adanya kejadian ini masyarakat secara menyeluruh diimbau untuk tetap berpikir dan berperilaku positif. Hindari aneka berita dan tindakan yang mampu memprovokasi. Yang mana hanya akan merugikan diri sendiri dan orang lain.

Bagaimanapun juga menghormati dalam implikasi toleransi sesama manusia adalah sangat wajib dilakukan. Mengingat Indonesia ialah negara multikultur. Negara yang terdiri dari aneka ragam ras, suku serta adat yang telah membudaya.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua, tinggal di Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed