Masyarakat Mendukung Papua Bagian NKRI

Oleh : Yeremia Kagoya )*

Isu rasis yang dimanfaatkan kelompok separatis untuk menyuarakan pemisahan diri dari Indonesia ditentang masyarakat lua. Pemisahan diri dianggap gagasan yang dibuat-buat karena Papua merupakan bagian integral NKRI. Salah satu dukungan datang dari juga masyarakat Makassar.

Akhir-akhir ini kita sedang dihadapkan atas permasalahan Papua yang sedang ramai. Kisruh akibat isu persekusi yang menimpa mahasiswa Papua di Surabaya menandai awal kericuhan aksi demontrasi di wilayah Jayapura dan sekitarnya. Ramainya pemberitaan terkait pemisahan diri Papua dari Indonesia agaknya menjadi topik menarik untuk dikulik.

Meski pelaku rasisme kini telah ditindak tegas, namun insiden tempo hari itu setidaknya masih meninggalkan luka yang tak kunjung sembuh. Luka akibat pendiskriminasian ras, suku serta agama, yang mana sebetulnya merupakan masalah klasik. Bukan hanya sekarang, sejak diumumkannya hasil sidang Pepera, banyak pihak yang pro dan kontra. Namun, keputusan telah di palu, hasil telah fix dan final tanpa bisa diganggu gugat.

Pengesahan Pepera yang menyatakan jika Papua adalah bagian integral NKRI ini telah disaksikan dan disetujui oleh PBB langsung serta para negara sahabat. Yang paling penting ialah masyarakat Papua telah mendeklarasikan dirinya untuk selalu menjadi bagian dan berjuang bersama NKRI.

Banjir dukungan terkait hal ini juga datang dari Eksponen Muda Lintas Iman Indonesia (EMLI). Pihaknya menyatakan jika Papua merupakan bagian tak terpisahkan dari NKRI. Viktus Murin selaku Sekretaris EMLI turut menjelaskan jika Papua telah menjadi bagian integral NKRI, berdasarkan asas uti possidentis juris.

Meski dulunya sebagai wilayah jajahan Belanda, namun sejak diproklamirkan kemerdekaan Indonesia, Papua telah resmi menjadi bagian bumi Nusantara. Viktus kembali mengingatkan bahwa bumi Cendrawasih ditegaskan kembali ke pangkuan ibu pertiwi, melalui Pepera. Yang mana hasilnya telah disetujui oleh PBB dalam resolusi nomor 2504 (XXIV).

Viktus juga menyatakan jika Pepera memiliki basis hukum Perjanjian Bilateral New York Agreement tahun 1962. Namun bukan bab sebelas yang memuat self determination Piagam PBB. Yang mana harus dimaknai sebagai solusi konflik antara Indonesia-Belanda. Berbeda kasus dengan wilayah Timor Timur yang memiliki dasar di Bab XI.

Kendatipun Belanda telah mengupayakan, hasilnya tetap Papua tidak pernah masuk ke dalam list Non Self Government Territory atau NGST. Hal ini berarti, dengan atau tanpa Pepera, Papua tetap menjadi bagian integral NKRI. Hal serupa juga dilakukan oleh masyarakat Makassar yang tergabung di dalam Aliansi Anak Bangsa Cinta NKRI. Mereka menyerukan jika Papua adalah satu tubuh dengan NKRI, dalam aksi unjuk rasa di Monumen Mandala pembebasan irian Barat. Massa berorasi dan juga membentangkan bendera Merah Putih.

Arqam Azikin selaku akademisi turut ambil bagian untuk berorasi. Ia meneriakkan kalimat-kalimat pembangun seperti “Jangan Coba-coba memisahkan Papua dari Bingkai NKRI, Papua Adalah saudara kita, Papua adalah merah putih!
Menurutnya, jika menelisik kembali nilai perjuangan bangsa ini memiliki peranan yang besar. Para pejuang yang gugur di Papua guna mempertahankan NKRI juga perlu kita hargai. Dan hingga kini masih banyak anggota TNI dan Polri yang menjaga Papua agar tetap kondusif. Arqam berharap kedepannya tidak akan terjadi lagi isu rasialis juga aneka provokasi. Selain itu ia juga mengimbau untuk seluruh rakyat dimanapun, untuk tidak terhasut oleh kelompok-kelompok haluan kiri. Yang hanya ingin membuat Indonesia terpecah belah.

Meski dikawal ketat, terdapat kegiatan lain di tengah aksi unjuk rasa ini, mereka membagikan selebaran kepada pengguna jalan yang melintas. Selebaran tersebut berisi beberapa poin pernyataan yang antara lain menyebutkan; Penolakan keras akan adanya upaya adu domba serta provokasi melalui isu rasialis. Menjamin keamanan seluruh mahasiswa Papua yang berada di wilayah Makassar. Serta menolak keras upaya disintegrasi Papua, karena bumi Cendrawasih ini ialah bagian integral NKRI, sah, final dan tak terpisahkan.

Melihat rasa solidaritas yang ditunjukkan rakyat Indonesia guna mendukung posisi Papua lebih kuat lagi perlu diapresiasi. Aneka dukungan ini juga merupakan bukti kuat jika Warga Papua dan Indonesia ialah satu hati, karena berusaha menjaga keutuhan bernegara dalam bingkai NKRI.

Semoga isu rasisme yang menimbulkan dampak yang buruk ini mampu enyah oleh kebersamaan seluruh warga negara Indonesia untuk memeranginya. Sehingga, keberlangsungan kehidupan yang aman, damai, sentosa tetap terwujud.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed