Wamena Berangsur Kondusif, Masyarakat Mulai Beraktivitas Normal

Oleh : Yeremia Kogoya )*

Situasi Wamena pasca kerusuhan beberapa pekan silam, mulai berangsur normal. Denyut kehidupan masyarakat mulai terasa seiring adanya beberapa toko dan pasar yang mulai buka.
Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Cpl Eko Daryanto mengatakan warga yang masih mengungsi di 34 posko, dan masih memiliki tempat tinggal, diharapkan dapat kembali ke rumah. Pasalnya, situasi dan kondisi di Wamena kini mulai kondusif dan perekonomian kembali normal pasca kerusuhan anarkis pada Senin (23/9).
Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua Irjen Paulus Waterpauw juga meminta agar para pengungsi dapat kembali ke tempat tinggal mereka di Wamena, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya. Paulus memastikan kondisi keamanan di Wamena telah mulai kondusif.
Paulus juga memahami, bahwa kerusuhan Wamena telah menimbulkan kekhawatiran dan ketakutan yang mendorong warga mengungsi ke tempat yang dianggap lebih aman. Namun Paulus meminta agar warga tidak takut berlebih untuk dapat kembali ke Wamena setelah situasi kondusif.
Dirinya juga menghimbau kepada masyarakat Wamena, agar tidak berlarut dalam ketakutan dan trauma yang berkepanjangan karena aparat keamanan siap mengamankan warga dari berbagai macam gangguan yang mungkin terjadi.
Mantan Kapolda Sumatera Utara tersebut kembali memastikan bahwa kondisi keamanan Wamena bahwa kondisi kemananan wamena sudah mulai kondusif.
Kembalinya situasi kondusif di masyarakat ditandai dengan sejumlah tempat usaha dan pasar tradisional mulai kembali dibuka. Bahkan, Pasar Wouma dan Jalan Irian yang berada di pusat kota Wamena terlihat sudah normal. Aktivitas jual beli sudah berjalan seperti biasanya. Untuk itu pengungsi yang masih memiliki rumah bisa kembali ke rumah dan beraktivitas seperti biasa.
Aparat bersama dengan Pemda setempat, tokoh adat dan tokoh agama, juga mengimbau agar masyarakat tidak terprovokasi oleh hoaks yang ada di sosial media. Hal ini tentu akan menjadi pembelajaran bagi kita, bahwasanya berita yang menyesatkan merupakan sesuatu yang sangat berbahaya. Terutama pasca kasus kerusuhan di Wamena.
Untuk menangani permasalahan di Wamena, Kementrian Sosial telah menyalurkan bantuan senilai Rp 3.89 miliar untuk korban bencana sosial kerusuhan di Wamena, Papua. Adapun korban meninggal dunia, Kemensos memberikan santunan kepada ahli waris senilai Rp 15 juta per jiwa.
Presiden Jokowi menyebutkan bahwa para perusuh tersebut merupakan kelompok kriminal bersenjata yang selama ini sering menyerang aparat TNI/Polri di Papua.
Oleh karena itu, Presiden juga menekankan bahwa kerusuhan yang terjadi di Papua bukanlah disebabkan oleh konflik etnis, melainkan ulah dari kelompok kriminal bersenjata.
Presiden juga mengatakan, jangan ada yang menggeser – geser menjadi seperti konflik etnis, karena bukan itu permasalahannya. Karena masalah sebenarnya adalah kelompok kriminal bersenjata yang turun gunung dan melakukan pembakaran – pembakaran rumah warga.
Dengan suasana yang makin kondusif, mantan Gubernur Jakarta tersebut-pun menghimbau warga Wamena tidak perlu melakukan eksodus ke luar daerah. Dirinya mengatakan aparat keamanan sudah bisa mengamankan situasi.
Sementara itu Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, meminta agar masyarakat di seluruh Indonesia untuk tidak beropini atau mengeluarkan pernyataan – pernyataan yang dapat membuat situasi semakin memanas dan tidak kondusif.
Melalui akun twitternya, Haedar berdoa agar Indonesia senantiasa diberikan kedamaian dan jalan keluar untuk menuntaskan semua permasalahan yang sedang dihadapi.
Kondusifitas di Wamena tampak pada aktifitas jual beli di Pasar yang menjadi pusat kegiatan masyarakat di Jalan Irian, Wamena yang ternyata telah ramai oleh pedagang yang menjajakan aneka kebutuhan pokok.
Di Jalan Trikora juga sudah ramai dilalui kendaraan para pegawai dan pekerja menuju tempat mereka bekerja.
Meskipun masih ada yang mengungsi di sejumlah tempat, seperti di Kantor Polres Jayawijaya dan fasilitas milik TNI di Wamena, namun mulai menggeliatnya kegiatan jual beli seakan menandakan bahwa keamanan dan kondusifitas di Wamena berangsur normal.
Pemulihan kota Wamena, baik dalam hal ekonomi dan sosial diharapkan dapat berjalan dengan cepat.
Hal itu tak hanya didasari karena sebelumnya di Wamena tidak pernah terjadi konflik horizontal karena antara warga asli dan pendatang sudah lebih dari 20 tahun hidup bersama, tetapi juga masyarakat di kota tersebut tengah berupaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang dalam tiga tahun terakhir terus meningkat.
Termasuk perdagangan bahan kebutuhan pokok yang memberikan kontribusi kedua terbesar, 16,5% bagi perekonomian Wamena, setelah sektor transportasi dan pergudangan yang menyumbang 18,7%.
Kondusifitas tersebut sudah sepatutnya kita jaga dan kita apresiasi, kita juga harus lebih berhati – hati jika menerima berita maupun konten yang bermuatan rasial, karena tentu kita tidak ingin bangsa ini terluka.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua, tinggal di Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed