Kelompok Separatis Dalang Kerusuhan di Papua

Oleh: Rebecca Marian )*

Kerusuhan di Papua beberapa pekan lalu telah menimbulkan kesedihan masyarakat. Aksi anarkis yang dipicu hoaks rasial tersebut diduga kuat telah dimotori oleh kelompok separatis, seiring adanya tuntuan referendum Papua.
Papua mendapatkan sorotan tersendiri setelah insiden rasial pada agustus lalu, kerusuhan hingga tuntutan referendum jamak kita dengar di media sosial. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto menegaskan, kerusuhan di Papua, khususnya Wamena dimotori oleh 2 kekuatan. Yakni OPM dimana tokoh dibelakang organisasi tersebut adalah Benny Wenda.
Kelompok Benny Wenda berupaya membangun suatu kerusuhan dan ekspose ke dunia luar, dimana ada kekuatan untuk memerdekaan Papua dan Papua Barat.
Wiranto mendeteksi, peran Benny Wenda bergerak menjelang Konferensi Tingkat Tinggi Hak Asasi Manusia (KTT HAM) di Swiss dan pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat.
Wiranto membeberkan, bahwa Benny bersama kelompoknya berusaha menunjukkan eksistensi yang juga bergerak di luar negeri. Namun tidak ada negara khusus yang mendengarkan usaha OPM dan Benny Wenda karena bertentangan dengan resolusi PBB 2524 yang telah diputuskan di tahun 1969.
Benny disebutkan berusaha melobi agar komisioner HAM PBB bisa berkunjung ke Indonesia dan melihat langsung kondisi di Papua.
Memanasnya situasi di Papua dan Papua Barat pada Agustus 2019 lalu juga diduga ada peran Benny di dalamnya.
Benny diduga kuat menyebarkan konten bernada provokatif dan hoaks di media sosial, sambungan telepon, dan aplikasi pesan WhatsApp terkait Papua. Konten tersebut ia sebarkan kepada sejumlah petinggi negara di kawasan Pasifik.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo mengatakan, polisi kesulitan memproses hukum lantaran kewarganegaraan Benny dan tempat kejadian perbuatan pidananya berada di London, Inggris.
Dikabarkan pula bahwa Benny merupakan warga negara Inggris dan kini tinggal di Oxford, Inggris.
Pada 11 Juni 2002 silam, diberitakan bahwa Benny ditangkap Polisi karena dugaan telah menghasut masyarakat dan memimpin sejumlah pertemuan gelap.
Penangkapan tersebut rupanya tidak diterima masyarakat Jayawijaya . Mereka melakukan demo ke kantor DPRD Papua dengan tuntutan segera membebaskan Benny Wenda. Saat itu juga, Polisi berhasil menyita barang bukti berupa paspor Indonesia dan Paspor Papua Nugini Milik Benny.
Pada 29 Oktober 2002, Benny dan 1 tahanan lainnya melarikan diri dari rumah tahanan dengan mencongkel jendela kamar mandi.
Penyerangan Polsek Abepura pada 6 Desember 2001 silam juga diduga atas kerjasama Benny bersama Matias di wilayah perbatasan Jayapura, Papua Nugini.
Selain berperan pada memanasnya Papua dan Papua Barat, Benny Wenda juga mengaku telah mengeluarkan surat edearan yang menginstrusikan agar rakyat Papua tidak ikut upacara kemerdekaan.
Pihak kepolisian juga menduga bahwa kerusuhan yang terjadi di Wamena, tidak lepas dari peran Benny Wenda. Peristiwa tersebut juga tidak lepas dari organisasi lain yang terkait dengan ULMWP yang dipimpin oleh Benny, yaitu Komite Nasional Papua Barat (KNPB).
Ketua KNPB wilayah Mimika, Steven Itlay diduga memiliki keterkaitan dengan Benny Wenda. Steven diamankan di depan gerbang Universitas Cenderawasih (Uncen) di Jayapura, Rabu (11/9/2019) petang. Steven juga sudah berstatus tersangka kasus kerusuhan Jayapura yang terjadi pada 29 Agustus lalu.
Pada kesempatan yang lain, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyebutkan bahwa Benny Wenda merupakan aktor intelektual di belakang aksi yang berdampak kerusuhan tersebut.
Menurutnya, Peristiwa kerusuhan di Papua merupakan persoalan politik dan tdak bisa diselesaikan dengan pendekatan militer. Sehingga persoalan tersebut juga harus diseslesaikan dengan pendekatan politk.
Mantan Panglima TNI tersebut juga tidak menutup kemungkinan, bahwa pemerintah akan berkoordinasi dengan otoritas Inggris. Sebab, Benny Wenda menetap di sana.
Tentu saja wajar jika pemerintah Indonesia sudahj mulai geram dengan jaringan organisasi yang menjadi dalang penyebaran isu hoax hingga menyebabkan berbagai kerusuhan.
Kapolri Tito Karnavian juga menjelaskan, akan adanya jaringan lokal dan jaringan Internasional yang menjadi dalang dalam insiden ini. Jaringan tersebutlah yang menyusun berbagai strategi dan agenda setting dari berbagai aksi di beberapa daerah di Indonesia.
Jelas sudah bahwa Benny Wenda mempermainkan isu secara halus untuk menciptakan kekacauan di NKRI, oleh karena itu masyarakat Indonesia haruslah berhati-hati dan tidak mudah terprovokasi oleh berita yang bernada provokatif.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed