Mewaspadai Aksi Kelompok Radikal Jelang Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden

Oleh: Muhammad Zaki )*

Jelang Pelantikan Presiden, Aksi Teror Tampak semakin terbuka, dimana Menko Polhukam Wiranto ditusuk oleh seorang lelaki tak dikenal, diduga pelaku penusukan tersebut telah terpapar paham ISIS. Lima bulan yang lalu, Wiranto juga pernah menjadi target pembunuhan oleh kelompok perusuh 21 – 22 Mei 2019.
Rencana pembunuhan wiranto tersebut, diungkapkan langsung oleh Kapolri Tito Karnavian pada Mei Lalu. Selain Wiranto, 3 tokoh nasional lainnya juga masuk dalam daftar pembunuhan.
Tito menyampaikan, dari pemeriksaan resmi, mereka menyebutkan nama Wiranto, Luhut Binsar, Kabin, dan Gories Mere.
Atas kejadian tersebut, Wiranto menanggapinya dengan menyatakan tidak akan surut terhadap ancaman teroris maupun radikalisme. Ia juga berkomitmen akan terus menegakkan kebenaran.
Wiranto menilai, rencana pembunuhan pejabat negara tersebut dimaksudkan untuk memberikan rasa takut agar pejabat tersebut mengurangi aktifitasnya dan menjadi lemah. Namun Wiranto menegaskan bahwa dirinya tidak seperti itu.
Sekalipun ada ancaman pembunuhan, Wiranto mengatakan dengan tegas akan tetap bekerja keras sesuai dengan prosedur yang ada, yang berorientasi pada keamanan dan keselamatan negara.
Insiden penusukan tersebut dilakukan di Pandeglang Banten, pada 10 Oktober 2019, pukul 11.50 WIB, peristiwa yang terjadi dengan sangat cepat tersebut melukai 3 orang.
Diketahui, pada pukul 11.00 Wiranto dan rombongan akan meninggalkan kampus Universitas Mathlaul Anwar Banten, Pandeglang. Rencananya Wiranto akan kembal dari lokasi tersebut ke Jakarta menggunakan helikopter.
Saat tiba di alun-alun Menes. Polri menyebut masyarakat berkumpul untuk bisa bertemu dan bersalaman dengan Wiranto. Melihat hal tersebut, Wiranto pun hendak menyalami masyarakat. Namun tiba-tiba seorang lelaki berinisial SA menusuk Wiranto hingga menyebabkan mantan Panglima ABRI tersebut tersungkur.
Dalam penyerangan tersebut, Kapolsek Menes Kompol Dariyanto yang ada di lokasi juga terluka. Anak buah Wiranto juga terluka akibat serangan tersebut. Wiranto pun selanjutnya dikirim ke RSUD Pandeglang untuk mendapatkan pertolongan.
Atas insiden tersebut, pihak kepolisian tidak tinggal diam. Polisi langsung mendatangi rumah kakak ipar di Medan Sumatera Utara. SA yang merupakan penusuk Wiranto
Selain SA, aparat Kepolisian juga mengamankan FA. Keduanya saat ini masih diperiksa aparat kepolisian.
Informasi yang bertebaran di kalangan jurnalis menyebutkan bahwa hasil pengecekan polisi, diketahui bahwa SA merupakan simpatisan jaringan daulah.
SA melakukan aksi amaliyah dengan upaya penusukan terhadap Wiranto, ditengarai SA merupakan bagian dari kelompok Abu Zee dan sedang diburu oleh tim Detasemen Khusus (Densus) 88 antiteror.
Dari data yang telah dikumpulkan sebelumya, SA pernah menjadi pengurus rumsing Manzil Al Ahlam Pare Kediri yang juga menampung istri napiteroris dan kelompok daulah, diantaranya Moh. Arsad, Mury dan Sutiah yang telah ditangkap beberapa waktu lalu di Bekasi.
Jika memang SA terpapar oleh ideologi ISIS, maka insiden ini akan menjadi aksi teror penikaman pertama yang menyasar pejabat tinggi Indonesia.
Selain menggunakan bom bunuh diri, simpatisan ISIS memang kerap menebarkan aksi teror mereka dengan cara menabrakkan kendaraan dan menggunakan senjata tajam.
Dalam majalah Rumiyah yang merupakan propaganda ISIS yang terbit pada 2016 lalu, kelompok penebar teror tersebut mengatakan kepada pengikutnya bahwa “berjihad” tidak harus bermodal rencana yang panjamg dam alat-alat yang sulit seperti bom.
Organisasi yang dipimpin oleh Abu Bakar Al-Baghdadi tersebut mengatakan dengan modal senjata tajam dan target, para simpatisan sudah bisa ikut serta dalam “berjihad”.
Tentunya makna Jihad yang diyakini oleh kaum radikalis adalah sesuatu yang berhubungan dengan pertumpahan darah, jangan sampai kita salah tafsir terhadap makna jihad itu sendiri.
Sejak saat itu, serangan teror di sejumlah negara tidak hanya berupa pengeboman, tetapi juga penikaman dan penabrakan yang dilakukan oleh segelintir orang yang dilakukan secara sporadis dan terpisah.
Seperti di Chechnya, dimana seorang Pria dilaporkan menikam seorang perwira polisi dan seorang perwira pengawal nasional di dekat kediaman Kadyrov, pemimpin daerah otonomi Chechnya.
Artinya serangan itu merupakan ancaman nyata dari kelompok radikal yang ingin menebarkan ketakutan dan kekacauan. Masyarakat dari berbagai elemen, harus bersatu dalam melawan radikalisme, termasuk di dunia maya yang menganggap bahwa hal tersebut hanyalah settingan.

)* Penulis adalah pengamat sosial politik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed