Kampoeng Anggur Budidayakan Lebah Madu Teuweul Bernilai Ekonomi Tinggi

TangerangSatu.co.id KOTA TANGERANG – Setelah berhasil membentuk Kampoeng Anggur, Ketua RW 03 Kelurahan Uwung Jaya Kecamatan Cibodas, Boedi Santoso terus berinovasi agar kampung tematik yang dibentuknya bukan hanya berguna sebagai lahan hijau nan asri, ia terus berinovasi serta mengamati lingkungan yang dibentuknya agar bisa berhasil guna secara ekonomi. Kini, di Kampoeng Anggur ia kembangkan budi daya lebah teuweul atau klanceng untuk memghasilkan madu yang bernilai ekonomi tinggi.

Ditemui di Kampoeng Anggur, Jalan Aria Wangsakara Kelurahan Uwung Jaya, Boedi Santoso tengah menerangkan mengenai proses pembudidayaan lebah teuweul sampai menghasilkan madu multi khasiat kepada seorang temannya yang tengah berkunjung ke kandang lebah. Secara gamblang Boedi menerangkan hal ihwal lebah teuweul dan potensi pasar madu yang dihasilkannya.

“Saya budidaya lebah teuweul atau kancleng ini baru berjalan dua bulan. Di kandang Kampoeng Anggur saat ada 60 setup (kotak kayu untuk lebah bersarang). Pekan depan datang 100 setup. Panen perdana madu teuweul di sini telah menghasilkan tiga liter madu. Madu teuweul Kampoeng Anggur ini saya kemas dalam botol ukuran 250 mililiter. Satu botol ukuran tersebut saat ini masih harga promosi dijual Rp125 ribu. Alhamdulillah di sini banyak yang minat,” jelas Boedi Santoso didampingi sang isteri Erlina efendi yang juga kader Posyandu di lingkungan RW 03 Uwung Jaya.

Diungkapkan Boedi, awal dirinya tertarik untuk mengembangkan budiďaya lebah ini saat dirinya berkunjung ke wilayah Gunung Kancana Kabupaten Lebak. Di situ ia melihat ada warga setempat yang membudidayakan lebah teuweul. Lalu sepulangnya ke rumah, ia bercerita kepada sang isteri, Erlina Efendi yang juga kader Posyandu dan kepada Ketua Paguyuban Pemuda Kampung Gebang (PPKG), Diki Kosasih. Lantas, tak lama berselang Boedi Santoso bersama kader Posyandu RW 03 dan Ketua PPKG serta sejumlah tokoh masyarakat atas swadaya mereka melakukan studi banding ke Gunung Kancana.

“Kami melakukan studi bandung di Gunung Kancana selama dua hari. Kami belajar budidaya lebah teuweul. Kami juga membeli bibit lebah teuweul untuk dikembangbiakkan dan dibudidayakan di Kampoeng Anggur. Kami membuat kandang terbuat dari bambu dan atap dari daun rumbia agar hewan penghasil madu ini merasa seperti di habitatnya,” terang Boedi Santoso didampingi Erlina Efendi.

Dijelaskan Boedi, ia tertarik terhadap budidaya madu ini karena tidak membahayakan masyarakat dan tak perlu perawatan khusus. Lebah teuweul ini, kata Boedi tidak menyengat sehingga aman bagi lingkungan padat penduduk seperti di wilayah Kampoeng Anggur.

“Hamanya cuma cecak. Selain itu lebah teuweul ini bisa berkembang biak dan bisa menghasilkan madu kwalitas baik hanya bisa di suhu udara di bawah 30 derajat celicius. Hewan ini tak sanggup bila berada di bawah langsung atap asbes. Bisa di bawah asbes tapi jaraknya minimal empat meter. Setup harus terlindung dari hujan dan panas,” terang sang penggerak Kampoeng Anggur yang kini banyak terima undangan untuk membagikàn pengalamannya kepada masyarakat wilayah lain.

Boedi Santoso mengungkapkan saat memindahkan sarang harus disertai ratu agar tetap menghasilkan madu. Lebah pekerja tak bisa menghasilkan madu tanpa ratu. Masyarakat Kampoeng Anggur RW 03 Kelurahan Uwung Jaya Kecamatan Cibodas Kota Tangerang kata Boedi kini banyak yang memulai budidaya ini.

Ia menambahkan, manfaat madu teuweul bagi kesehatan ini sangat banyak. Ampas perasan madu dijadikan propolis yakni obat luka. Sedangkan bagian madu atas yang setelah disaring berguna sebagai biofolat untuk kesuburan kandungan. Putik sari bunga untuk pakan lebsh ini dari tumbuhan yang ada di Kampoeng Anggur.***

Ateng San | Yahya Suhada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed