Mendukung Kinerja Menteri Terpilih

Oleh : Ahmad Pahlevi )*

Rakyat Indonesia telah menyaksikan Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang telah berjalan dengan lancar, kini kita pun telah mengetahui siapa saja tokoh yang mengisi pada pos kementrian, dimana beberapa diantaranya memang cukup mengundang perhatian masyarakat.
Seperti yang kita ketahui bahwa posisi menteri ditentukan oleh Presiden, dimana Presiden selaku pemimpin negara memiliki hak prerogatif untuk memilih dan bahkan me-reshufle menteri dari kabinetnya.
Bersama dengan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Jokowi menggelar sidang Kabinet Paripurna dengan Menteri Kabinet Indonesia Maju.
Salah satu menteri yang cukup menyita perhatian adalah terpilihnya Tito Karnavian yang menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri dalam kabinetnya, dirinya telah resmi dilantik oleh Presiden Jokowi menggantikan Tjahjo Kumolo yang kini menjabat sebagai Menteri Pendayagunaan aparatur Negara-Reformasi Birokrasi.
Eks Kapolri tersebut cukup dikenal dan sering muncul di media lantaran selama menjabat sebagai Kapolri sejak 2016, dirinya telah menorehkan prestasi yang besar.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan, Tito Karnavian memiliki prestasi yang bagus sejak berada di Akpol hingga puncak karirnya menjadi Kapolri. Ia pun menyakini bahwa tugas yang diemban Tito akan memperkuat Presiden Jokowi dalam Kabinet Indonesia Maju.
Jika ditelusuri, Tito merupakan Menteri Dalam Negeri pertama di Indonesia yang berasal dari unsur kepolisian. Pada zaman Soeharto, jabatan menteri dalam negeri selalu diisi oleh tentara Angkatan Darat, dimana seoalah-olah menjadi jatah bagi TNI AD.
Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghentikan dominasi militer di Mendagri, ia kemudian menunjuk sosok sipil untu menjabat sebagai Mendagri, yakni Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi.
Nama Tito Karnavian mulai dikenal luas ketika ia berhasil menangkap Tommy Soeharto, dalang pembunuhan Hakim Agung Safiudin, pada tahun 2001. Dalam operasi tersebut ia menjabat sebagai Ketua Tim Kobra bentukan Reskrim Polda Metro Jaya.
Ia juga sempat mendapatkan tugas di detasemen 88 Anti Teror Polda Metro Jaya pada tahun 2004. Dirinya memimpin tim dengan 75 personil. Saat itu ia juga berhasil membongkar dan menangkap teroris di Indonesia.
Tim tersebut berhasil melumpuhkan teroris seperti dr Azhari dan kelompoknya di Malang Jawa Timur pada November 2005 silam. Keberhasilannya dalam menangani terorisme membuat Tito ditarik ke Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Tak lama kemudian, Pada 2012, Tito ditugaskan menjadi Kapolda Papua selama 2 tahun
Pada 2015 namanya pun kian dikenal saat ia ditunjuk menjadi Kapolda Metro Jaya. Dia dinilai baik dalam menangani kejadian terorir Bom Sarinah Thamrin Jakarta.
Sementara itu, ada hal menarik yang dalam Kabinet Indonesia Maju, dimana menteri Agama dipilih dari latar belakang militer, yakni Fachrul Razi. Tentu banyak yang tidak menyangka sebelumnya dimana kementrian yang membidangi keagamaan di Indonesia dipimpin dari kalangan sipil baik tokoh publik, partai politik dan profesional. Seperti Abdul Malik Fajar, Quraish Shihab, Suryadarma Ali, Lukman Hakim dan lain-lain.
Pensiunan militer tersebut mendapatkan mandat dari Jokowi untuk mengatasi perihal radikalisme yang memang menjadi perhatian pemerintah dan memerlukan pendekatan yang kreatif untuk menanggulanginya.
Meski ia menjabat sebagai menteri Agama, namun karena dirinya berasal dari kalangan partai politik. Ia lebih memilih mewakili dari kalangan profesional di kabinet.
Tercatat Fachrul pernah menjabat sebagai Asisten Operasi Kepala Staf Umum ABRI (1997- 1998). Dirinya juga pernah menjabat sebagai kepala Staf Umum ABRI (1998-1999).
Sebelum ditunjuk sebagai Menteri Agama, Fachrul sempat dipanggil Jokowi ke Istana untuk berdiskusi mengenai berbagai hal seperti soal keamanan, pendidikan, pembangunan sumber daya manusia dan hal terkait lainnya.
Posisi tersebut tentu menorehkan sejarah baru yang cukup panjang sebelum era Fachrul Razi yang ditunjuk presiden untuk mengisi pos Kementrian Agama.
Keterpilihan mereka berdua dalam kabinet Indonesia Maju tentu bukanlah tanpa alasan, hal ini menunjukkan bahwa Jokowi cukup jeli dalam memilih sosok maupun tokoh yang akan diajak bekerjasama dalam kabinetnya.
Mereka yang terpilih menjadi menteri tentu harus menunjukkan kinerjanya sesuai dengan arahan presiden. Kita pun harus turut serta dalam pembangunan yang ada di Indonesia dan legowo atas siapapun yang jadi menterinya..

)* Penulis adalah pengamat sosial politik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed