Kenapa Suhendar Cuma Daftar di Dua Parpol?

TangerangSatu.co.id TANGERANG SELATAN – Dalam perjalanan menuju Pilkada Kota Tangerang Selatan mendatang, banyak nama bakal calon mendaftar di lima atau bahkan hampir seluruh parpol yang membuka konvensi, mulai dari PDI Perjuangan, PSI, PKB, PPP, PAN, Partai Gerindra, hingga Partai Demokrat. Namun dari pantauan media ini, nama Suhendar hanya tercatat terdaftar di dua parpol saja, yakni PDIP dan PSI.

Apa yang melatarbelakangi Suhendar hanya mendaftar di dua parpol tersebut? Untuk lebih jelasnya, kami telah mewawancarai Ketua Tim Kampanye Suhendar (TKS), Aru Wijayanto, di kawasan BSD, Kota Tangerang Selatan, Sabtu 2 November 2019. Berikut petikannya.

Hingga hari ini ada tujuh parpol yang membuka konvensi terbuka untuk Pilkada Tangsel, kenapa Suhendar hanya mendaftar di dua parpol?.
Sejak awal, kami berniat maju lewat jalur independen. Mengenai pendaftaran kami ke PDIP dan PSI, itu adalah upaya lain yang juga kami bangun. Meski demikian, upaya lain tersebut bukan berarti kami lantas “ugal-ugalan” mendaftar di semua parpol.

Apa pertimbangan TKS hingga hanya mendaftar ke PDIP dan PSI? Mendaftar ke parpol itu adalah soal pilihan dan sikap dalam kaitannya dengan bagaimana menempatkan cara berfikir rasional ke dalam tindakan politik, mengingat masing-masing parpol memiliki garis politik yang khas dan bisa berseberangan satu dengan yang lainnya. Bagi saya, mendaftar ke konvensi partai politik bukan soal mengadu peruntungan seperti situasi berjudi, tanpa perhitungan dan hanya mengandalkan “garis tangan”. Yang pasti, ada kesamaan semangat dan cara berfikir yang kemudian membuat kami hanya memilih mendaftar di PDIP dan PSI.

Apakah ini berarti TKS tidak sepakat dengan garis politik di luar PDIP dan PSI?
Tidak se-ekstrem itu juga. Ini hanya soal “pilihan” politik. Ketika kami memilih “X” maka hal itu tidak langsung berarti kami berlawanan dengan “Y”. Ini lebih kepada bagaimana kami membangun sikap yang didasari akal sehat serta tidak bertindak “ugal-ugalan” pada musim konvensi parpol ini. Apalagi kami sudah mempersiapkan diri maju lewat jalur independen, maka bila ada pilihan jalur lain, sikap itu harus ditentukan secara sungguh-sungguh dan bukan berdasarkan pemikiran “yang penting daftar”.

Apakah Anda dan TKS ini tidak takut dianggap tidak komunikatif dengan parpol lain ketika hanya bersikap mendaftar di PDIP dan PSI saja?
Tidaklah. Politik kita ini lentur dan cair. Lagipula, semua pihak saya rasa sudah sama-sama berhitung tentang risiko politik yang akan dihadapinya ke depan. Andai kami jadi maju lewat jalur independen, toh semua parpol itu akan jadi lawan politik, termasuk parpol yang pernah kami daftar. Lalu, andai kami diterima di salah satu parpol yang kami daftar, toh ada juga parpol lain yang akan jadi lawan politik. Ini persoalan pilihan untuk menggunakan waktu dan perhitungan politik secara tepat dan efisien.

Bila mengacu pada statement Anda soal sikap dan pilihan tadi, apakah orang yang mendaftar di semua parpol yang membuka konvensi bisa disebut tidak punya sikap?
Karena kami tidak melakukan itu, maka kecenderungannya kami anggap demikian. Sebab, politik adalah soal sikap dan pilihan. Sekali lagi, tindakan politik tidak bisa mengandalkan peruntungan saja : siapa tahu dari tujuh parpol ada satu yang nyangkut. Ya nggak begitulah. Meski tidak pasti 100 persen, tapi kita bisa berhitung mengenai peluang dari akibat tindakan politik kita sendiri.

Bila harus memilih, Anda akan membawa TKS ini untuk maju Pilkada melalui jalur independen atau jalur partai politik?
Begini, pilihan itu tidak 100 persen ada di tangan kami. Untuk independen, kami bisa menentukannya sendiri, termasuk dalam memilih pasangan kandidat. Tapi untuk jalur parpol, keputusan itu adalah kuasa parpol, bukan kami. Dalam konteks parpol, kami hanya bisa memilih dua dari sejumlah parpol yang membuka konvensi. Pada prinsipnya, apapun kendaraan politik di akhir perjalanan ini, kami siap bertarung di Pilkada mendatang.

Yahya Suhada | Ateng San

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed