Radikalisme Sebuah Paham Manipulasi Kebenaran yang Menghambat Indonesia Maju

Oleh: Ridho Airlangga (BLOGGER/Relawan Gerakan Literasi Terbit)

Di zaman now, radikalisme digerakkan untuk mengganti asas negara. Targetnya, penegakan sistem khilafah dengan beragam argumen.

Demokrasi sebagai sistem bernegara dan berbangsa dianggap “haram” dan dituduh sebagai biang kerok kegagalan membangun bangsa.

Disinilah kekeliruan kelompok radikal itu, cenderung menganggap demokrasi sebagai sistem yang tak dapat diinterpretasi, tak boleh dikreasi ketika belum efektif penegakannya.

Radikalisme merupakan ancaman nyata bagi keamanan dan keutuhan bangsa. Masyarakat Indonesia telah merekam bagaimana bahaya dan ancaman mereka yang telah mampu melulu lantakkan sendi – sendi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam waktu singkat, yang hanya meninggalkan air mata dan jerit ketakutan. 

Mencegah dan mewaspadai ancaman radikalisme tidak hanya menjadi peran bagi aparat keamanan tetapi membutuhkan peran dan partisipasi seluruh pihak. Tentunya dengan sinergi antara negara dan masyarakat, maka radikalisme akan sulit berkembang.

Paham radikalisme pun berevolusi menjadi suatu gerakan terorisme seperti ISIS misalnya, dimana keberadaannya jelas mengganggu stabiltas keamanan yang ada di Indonesia. Gerakan radikal ISIS berpotensi membuat penguatan sekat di masyarakat dan hal tersebut akan membuat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah menjadi berkurang.

Paham Radikalisme dapat memprovokasi pecahnya NKRI serta merusak kedaulatan bangsa, karena paham Radikalisme seperti ISIS sangatlah bertentangan dengan ideologi Pancasila dan NKRI. Salah satunya adalah munculnya polarisasi antara pihak yang pro dan kontra terhadap paham ISIS di tengah umat Islam.

Tentu bisa disimpulkan, bahwa mendukung keberadaan ISIS sama saja dengan mendukung Radikalisme, dengan mendukung radikalisme maka ia turut serta dalam mendukung perpecahan sesama umat Islam di Indonesia.

PEMERINTAH HARUS BIJAK LIBAS FANATISME DAN MANIPULASI KEBENARAN

“Manipulasi agama” merupakan bagian dari modus operasi kinerja dari kelompok radikalisme terhadap agama.

Sikap fanatik buta dan berlebihan sangat tidak dianjurkan dalam islam, makanya agama ini mewajibkan agar umatnya terus belajar dan menuntut ilmu. Tujuannya adalah agar umat tidak terperangkap dalam sikap fanatik buta.

Bukan berarti umat tidak dibolehkan bersikap fanatik. Toh, sebagian besar umat islam awam mengikuti dan fanatik terhadap fatwa ulama. Hanya saja, sebaiknya umat terus belajar agar tidak terjerumus dalam sifat fanatik buta tersebut.

Sebab, sikap fanatik buta merupakan biang dari tindakan intoleran yang melahirkan berbagai kekerasan yang mengatasnamakan agama. Apalagi sudah tersusupi paham ideologi tertentu (terorisme).

Fanatisme macam ini tentu sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa, fanatisme ini pula bisa jadi penyebab keretakan antarumat karena sikap terlalu bersemangat (pede) mengklaim kebenaran.

Oleh sebab itu, perlu adanya formulasi baru berupa infiltrasi pemahaman keagamaan kuat yang ditujukan untuk menghantam dalil-dalil dasar aliran fanatik dan manipulasi kebenaran ini.

Karena radikalisme tidak ada korelasinya sama sekali dengan ajaran agama. Justru, agamalah yang sebetulnya memandu manusia untuk hidup dalam ketentraman, kedamaian, serta menyatukan seluruh manusia. Agama hadir guna memberikan kasih sayang, agama juga hadir guna mempersatukan kita dalam perbedaan, dan bukan malah memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Pancasila, UUD 1945, prinsip Bhineka tunggal ika serta NKRI. Pemahaman akan dasar paling fundamental ini diharapkan mampu membentengi setiap warga sehingga terhindar dari segala kemungkinan yang terjadi. Apalagi, ajaran-ajaran yang menyimpang semacam ini dinilai tak bersesuaian dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Mari kita jaga ikatan kebangsaan kita, keberagaman nusantara kita serta perasaan senasib kita untuk mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangankan dan diperebutkan oleh para pahlawan kusuma bangsa dengan bersatu melawan manipulasi kebenaran “radikalisme” demi mewujudkan kemajuan bangsa yang damai dan sejahterah.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed