Mewaspadai Ancaman Aksi Teror Menjelang Nataru

Oleh: Aditya iskandar)*

TNI/Polri terus bersinergi guna memberikan rasa aman kepada masyarakat. Kendati demikian, Pemerintah beserta aparatur keamanannya mengimbau kepada seluruh rakyat Indonesia, agar tetap waspada akan ancaman terorisme menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), termasuk lebih seksama dalam memperhatikan lingkungan sosialnya.

Tak dipungkiri jika rentetan peristiwa terkait terorisme ini selalu memilih momentum saat hari besar keagamaan maupun menjelang akhir tahun. Terorisme seolah sengaja menyesuaikan momentum ini dengan menyebarkan ancaman beserta teror yang membuat keadaan kacau serta kecemasan hingga trauma tak berkesudahan.

Menurut Pengamat terorisme Ridlwan Habib, menyatakan bahwa peningkatan kewaspadaan terhadap kemungkinan serangan terorisme di akhir tahun harus berada di level proporsional serta tak menimbulkan kepanikan masyarakat. Menurutnya, terdapat sejumlah hal lain yang seharusnya diwaspadai aparat yakni menguatnya perdebatan Sunni-Syiah dan fenomena lone wolf. Sebab, seluruh negara selalu meningkatkan kewaspadaannya akan kemungkinan serangan terorisme.

Peneliti dari Kajian Stratejik Intelejen (KSI) Universitas Indonesia tersebut menambahkan bahwa pencegahan ini bisa dilakukan dengan menggelar pertemuan tertutup dengan tokoh-tokoh agama. Hal tersebut wajib dilakukan pemerintah sebagai langkah untuk mengantisipasi aksi penyerangan yang mengambil momentum perayaan Natal, beserta tahun baru.

Akan tetapi, Ridlwan menilai bahwa bukan aksi terorisme yang mesti diwaspadai menjelang pergantian tahun ini. Aparat juga harus mewaspadai segala bentuk gejala menguatnya perdebatan Sunni-Syiah.
Dia berpendapat perdebatan Sunni-Syiah masih wajar bahwa selama terjadi di media sosial, akan tetapi jangan sampai konfrontasi ini terbawa ke dunia nyata. Sehingga aparat-pun diminta untuk melakukan langkah pencegahan secara dini. Lebih lanjut, Kementerian Agama turut memegang peran yang penting dalam penanganan Sunni-Syiah tersebut. Pasalnya, hal itu menyangkut tentang pemahaman seseorang.

Terakhir, Ridlwan juga kembali mengingatkan terhadap pentingnya kewaspadaan terhadap lone wolf (yakni, penyerang tunggal). Sebab, orang yang melakukan aksi secara mandiri tersebut tidak terkoordinasi dalam sebuah komando dan justru cenderung sulit untuk dideteksi.

Sementara itu, pengamat militer dari Universitas Padjadjaran, Muradi menghimbau agar seluruh warga negara, baik sipil maupun pemerintah waspada di rentang waktu tanggal 15 Desember 2019 hingga 15 Januari 2020. Dirinya menilai momentum inilah yang biasanya dimanfaatkan teroris untuk menyebar teror. Kendati demikian, kemungkinan datangnya teror tak hanya berasal dari Jakarta saja. Namun, juga dari daerah lainnya.

Tak hanya itu, Muradi mengutarakan jika saat ini jaringan terorisme yang diprediksi akan melakukan aksinya telah merubah pola sasaran. Sasaran teror tak lagi terfokus pada banyaknya jumlah korban melainkan siapa yang akan menjadi target teror mereka.

Sebagai contoh jika dulunya penerapan pola terorisme ini mencakup lingkungan serta korban yang besar, seperti bom Bali. Namun, kini teroris ini mencoba melukai, menusuk bahkan membunuh satu dua orang target. Namun, sasaran tersebut adalah orang yang cukup populer.

Terlebih, Serangan saat ini juga tak bisa lagi diprediksi berupa serangan teror bom bunuh diri. Aksi-aksi kecil namun dapat berakibat besarlah yang kudu diwaspadai, misal serangan penusukan terhadap tokoh maupun orang besar. Sehingga siapapun diminta untuk selalu waspada menjelang akhir tahun.

Menebar kekhawatiran, carut marut suasana hingga menelan korban jiwa seolah adalah tujuan mereka (terorisme). Mereka sengaja membuat kegaduhan publik yang terkadang digunakan untuk mengalihkan sejumlah perhatian. Maksudnya, lokasi A dibuat kacau, padahal lokasi B lah yang sedang jadi incaran. Sehingga serangan seperti ini tak mampu diprediksi secara jelas. Maka dari itu peningkatan kewaspadaan tidak bisa disepelekan.

Kewaspadaan ini bisa meliputi berbagai sektor. Termasuk dunia digital, yaitu media sosial. Media sosial ini kerap kali disebut sebagai latar belakang masalah terkait terorisme. Bagaimana tidak, pengguna mampu mengakses segala informasi (menyimpang sekalipun) tanpa pembatasan yang jelas. Tak hanya itu, media sosial ditengarai menjadi lahan empuk bagi terorisme untuk berinkubasi dan melancarkan aksinya tanpa takut terdeteksi pihak keamanan.

Pengaruh media sosial dalam penyebaran terorisme ini juga dituding sebagai jalan paling ampuh mendoktrin masyarakat dengan konsep pemahaman yang salah kaprah. Akhirnya bijak bermedia sosial akan turut menjaga kita dari segala intervensi dunia luar yang meracuni pikiran dan tingkah laku kita. Bukan tak mungkin jika kewaspadaan ditingkatkan guna menciptakan suasana yang kondusif akan mampu menekan ancaman maupun serangan terorisme menjelang pergantian tahun ini.

)* Penulis adalah pengamat sosial politik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed