Mendukung pemberantasan terorisme

Oleh: Ismail )*

Pemerintah terus menangkap terduga teroris jelang akhir tahun. Upaya dilaksanakan agar liburan akhir tahun masyarakat berjalan aman dan lancar. Dukungan dari seluruh masyarakat untuk menumpas terorisme sangat diperlukan.

Upaya intensif pemberantasan terorisme khususnya menjelang tahun baru kian digalakkan. Berkaca mata dari pengalaman, momentum pergantian tahun selalu menjadi target penyerangan gerakan radikal ini. Umumnya pelaku memiliki sistem pergerakkan sendiri-sendiri. Ada yang berkelompok, adapula yang bergerak mandiri atau biasa disebut lone wolf.

Untuk Lone Wolf, meski bergerak secara mandiri bukan tak mungkin pelaku memiliki koordinasi dengan jaringan dengan skala internasional. Biasanya mereka terhubung melalui internet atau dunia maya. Kecanggihan teknologi ini cukup ampuh digunakan oleh para pelaku cyber crime karena terkenal aman dan sulit dideteksi.

Mereka terorganisir secara rapi dan terkoneksi. Menurut sejumlah laporan, para teroris ini menebar propaganda-propaganda palsu untuk menghancurkan suatu pemerintahan. Bahkan, jika sang pemimpin mati sekalipun mereka urung mundur. Mereka terus bergerak dan berjuang sesuai rencana awal.

Hal inilah yang mendasari pemerintah getol melaksanakan upaya pemberantasan. Sebab, pergerakkan kelompok ini sudah sampai ke lini masyarakat terbawah. Ambil contoh yang paling populer ialah seorang ASN, ada juga seorang aparat kepolisian, ibu rumah tangga hingga anak-anakpun dilibatkan ketika insiden bom bunuh diri beberapa waktu lalu. Peristiwa demi peristiwa menunjukkan bahwa paham radikal yang berujung kepada terorisme ini bisa menyerang siapa saja.

Sebelumnya, Markas Besar Kepolisian RI terus melakukan persiapan untuk pengamanan menjelang pelaksanaan Natal dan juga Tahun Baru pada akhir Desember 2019 mendatang. Di antaranya, korps Bhayangkara yang akan mengantisipasi adanya aksi terorisme.

Karopenmas Humas Mabes Polri, Brigjen (Pol) Argo Yuwono menyatakan, langkah antisipasi terorisme dilakukan dengan mengedepankan sistem preventif strike. Salah satunya, ialah gabungan TNI-Polri akan turun ke bawah berkomunikasi langsung dengan warga masyarakat.

Argo mengatakan pihaknya melakukan soft power dengan mengedepankan preventif strike. Mulai dari bhabinkamtibas dan babinsa serta masyarakat dari tingkat bawah akan di komunikasikan terus agar tak terjadi ancaman teror.

Selain itu, Kepolisian RI terus melakukan operasi terhadap pihak-pihak yang diduga sebagai terorisme. Dirinya juga telah mengamankan sejumlah tersangka yang kemungkinan masuk ke dalam jaringan teroris sejak insiden peledakan bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan, provinsi Sumatera Utara. Pihaknya menambahkan akan terus melakukan operasi zebra dan sejumlah giat pengamanan yang dilakukan masing-masing Polda di seluruh wilayah Indonesia.

Aparat keamanan dinilai perlu meningkatkan kewaspadaan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Agar tidak terjadi lagi aksi bom bunuh diri seperti di Medan beberapa waktu lalu. Pernyataan tersebut seperti yang disampaikan oleh eks pentolan Jamaah Islamiyah (JI) Ali Fauzi, usai mengisi sebuah seminar kebangsaan di Pendopo Lokatantra. Menurutnya, potensi menjelang Natal dan Tahun Baru, biasanya memang terdapat ancaman bom dan terorisme.

Menurut Ali, tidak menutup kemungkinan akan ada aksi teror susulan karena momen-momen seperti Natal dan Tahun Baru biasa digunakan oleh para pelaku terorisme. Ia juga menyampaikan, menurut pengamatannya, di wilayah Lamongan (Jawa Timur) misalnya, masih ada embrio terorisme namun sudah jauh berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Ali ini merupakan mantan instruktur perakit bom di Filipina. Sebagai Ketua Yayasan Lingkaran Perdamaian (YLP), dirinya bergerak untuk merangkul orang-orang terpapar radikalisme agar kembali ke pangkuan wilayah NKRI. Ia mengaku telah masuk ke embrio yang berada di Lamongan. Hanya saja, ia masuk secara perlahan untuk bisa membawa mereka pada pola pikir lurus seperti yang dilakukannya di YLP.

Ali juga memberikan apresiasi pada seminar kebangsaan dengan tema ‘Menangkal Radikalisme dan Terorisme’ yang dihelat di Kodim Lamongan. Acara semacam ini, diharap akan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bahaya radikalisme dan terorisme yang saat ini masih terus berkembang.

Bukan hanya di satu wilayah saja upaya deradikalisasi ini hendaknya dilakukan. Mengingat para terorisme ini menyebar hingga ke pelosok tanah air, dan pergerakkannya masih terus dalam pemantauan. Aneka imbauan agar terus waspada akan serangan susulan oleh pelaku teror terus digencarkan, agar masyarakat tidak lengah dengan perubahan di lingkungan sekitar.

Sebagai contoh, kita bisa melaporkan hal-hal yang sekiranya menyimpang dan mencurigakan kepada pihak kepolisian. Menjalin persatuan dan kesatuan lebih kokoh lagi, karena teroris ini memang sengaja menebar kekacauan untuk memecah belah persatuan. Berperilaku bijaksana termasuk menumbuhkan sikap toleransi antar umat beragama. Dan terakhir, mendukung upaya pemerintahan dalam membasmi aksi-aksi terorisme di negeri ini.

)* Penulis adalah pengamat sosial politik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed