MewaspadaI Ancaman Terorisme di Awal Tahun

Oleh: Rama Surya )*

Badan Intelijen Negara (BIN), TNI, Polri, dan seluruh instansi negara telah optimal menjalankan fungsinya untuk mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru 2020. Kendati demikian, instansi keamanan maupun masyarakat perlu terus meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman terorisme karena teror juga berpotensi terjadi di awal tahun.

Di awal tahun 2016 Indonesia sempat dikejutkan dengan adanya peristiwa bom di wilayah Thamrin. serangkaian ledakan mengguncang persimpangan Sarinah, Jakarta Pusat pada saat itu. Suara adu tembak antara pihak kepolisian dengan para teroris menciptakan suasana yang mencekam di wilayah sekitaran Sarinah.
Bom thamrin merupakan salah satu contoh yang menghilangkan penilaian bahwa kelompok teror tidak hanya melakukan aksinya di akhir tahun. Tujuan sebenarnya dari kelompok teror adalah untuk menciptakan rasa takut dimasyarakat
Dengan terciptanya rasa takut ini sebenarnya kelompok teror sudah merasa puas karena dapat menunjukkan konsistensi dan eksistensi bahwa mereka tetap eksis dan ada di Indonesia, untuk menunjukkan itu pada pimpinan mereka (ISIS) Abu Ibrahim Al Hashimi yang menjadi amir khilafah mereka di Suriah.
Selain itu juga, terdapat kecenderungan pola mengapa kelompok teror identik selalu aktif melakukan aksinya pada akhir tahun. Hal ini dikarenakan banyaknya perayaan-perayaan dan juga telah memasuki waktu liburan. Namun aksi teror juga tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada awal tahun seperti kejadian bom Sarinah.
Waktu-waktu liburan seperti akhir tahun maupun awal tahun merupakan salah satu waktu yang dipilih oleh kelompok-kelompok teror untuk melakukan aksinya. Untuk itu, sebagai masyarakat kita juga perlu untuk meningkatkan kewaspadaan kita agar tidak terulang kejadian seperti Bom Sarinah.
Menurut Kapolri Jenderal Idham Azis, pada tahun 2019 jumlah aksi terorisme di Indonesia sudah mulai banyak berkurang dibandingkan dengan tahun 2018. Tercatat aksi terorisme pada tahun 2019 hanya berjumlah 8 kejadian.
Namun hal ini tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan bertambah pada tahun depan, dimulai pada saat awal tahun 2020.
Pengamat intelijen Ridlwan Habib menyarankan agar seluruh pihak tidak hanya waspada terhadap teror yang kemungkinan terjadi pada akhir tahun saja, karena teror juga sangat berpotensi terjadi pada awal 2020.
Saran yang diberikan oleh Ridlwan tersebut berkaca pada kejadian bom Thamrin pada Januari 2016 dimana pada saat itu kewaspadaannya hanya terfokus pada beberapa hari di 25, 31 Desember, dan 1 Januari saja, sementara pola yang dipakai oleh pelaku teror kian waktu terus berubah.
Untuk akhir 2019 sampai Januari 2020 ini, menurut Ridlwan, cukup berpotensi terjadi serangan teror, namun modelnya sedikit berubah kalau dibandingkan dengan kejadian pada tahun-tahun sebelumnya.
“Mereka menunjukkan konsistensi dan eksistensi bahwa mereka tetap eksis dan ada di Indonesia, untuk menunjukkan itu pada pimpinan mereka (ISIS) Abu Ibrahim Al Hashimi yang menjadi amir khilafah mereka di Suriah,” katanya.
Sementara itu, Pengamat militer Universitas Padjadjaran, Muradi, juga ikut menghimbau seluruh warga negara, baik sipil maupun pemerintah untuk mewaspadai terhadap aksi terorisme di rentang waktu 15 Desember 2019 hingga 15 Januri 2020.
Dia juga menghimbau bahwa aksi terorisme saat ini tidak hanya berfokus pada daerah Jakarta saja, namun ada daerah yang bisa menjadi sasaran. Sebab saat ini jaringan terorisme yang diprediksi akan melakukan aksi-aksinya itu juga telah mengubah pola sasaran.
Dengan berkembangnya pola sasaran dari aksi terorisme ini, masyarakat Indoensia juga harus meningkatkan rasa kewaspadaannya guna meminimalisir adanya korban jiwa dalam aksi terorisme. Selain itu juga, masyarakat memiliki peran penting dalam melakukan penyebaran informasi mengenai pemberitaan aksi terorisme. Baiknya masyarakat tidak ikut memviralkan informasi-informasi yang berkaitan dengan aksi terorisme yang terjadi.
Hal ini guna mencegah tercapainya tujuan dari kelompok teror tersebut yang ingin menyebarkan rasa cemas di dalam masyarakat. Namun masyarakat juga baiknya membangun opini yang baik terhadap kinerja aparat keamanan yang telah melakukan pengamanan sebgai bentuk apresiasi masyarakat.
)* Penulis adalah pengamat sosial politik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may have missed