Tangerangsatu Bola – Manchester United kembali terpuruk usai dibantai Manchester City 0-3 di laga lanjutan Premier League. Sorotan tajam kini mengarah pada pelatih Ruben Amorim yang bersikeras dengan formasi 3-4-3, formasi yang dinilai sulit diadaptasi oleh para pemain.
Meski badai kritik menerpa, Amorim teguh pada pendiriannya. Ia tak berniat mengubah filosofi sepak bolanya sejak melatih Sporting. Bahkan, ia menyatakan jika klub menginginkan gaya main yang berbeda, maka dirinyalah yang harus diganti.

Sejak kedatangannya di Old Trafford November lalu, Amorim memang langsung menerapkan pola tiga bek sejajar. Namun, sejumlah pemain seperti Manuel Ugarte dan Bruno Fernandes tampak kesulitan menghadapi dominasi lini tengah lawan. Hal ini terlihat jelas saat melawan City, di mana lini tengah MU tak berkutik di bawah tekanan pasukan Pep Guardiola.
Situasi Amorim ini mengingatkan pada era Antonio Conte di Chelsea. Conte awalnya bertahan dengan formasi 4-2-3-1 warisan Mourinho dan Hiddink, namun kemudian beralih ke 3-4-3 setelah hasil yang kurang memuaskan. Perubahan itu membawa Chelsea meraih 13 kemenangan beruntun dan menjuarai Premier League.
Conte pernah berujar bahwa pelatih sebaiknya tidak tergoda meninggalkan filosofi sepak bolanya, karena perubahan taktik justru bisa menghilangkan identitas tim dan membuatnya lebih mudah dikalahkan. Ucapan inilah yang kini seolah menjadi pegangan Amorim. Ia berpendapat masalah MU bukan pada dua gelandang tengah, melainkan pada interpretasi publik terhadap jalannya pertandingan.
Amorim menjelaskan bahwa ia sering melihat tim lain bermain dengan lima gelandang di Etihad Stadium, namun tetap menderita lebih parah dibanding timnya.
Kritik terus berdatangan, salah satunya dari mantan kapten MU, Roy Keane, yang menyoroti sikap kaku Amorim yang enggan menyesuaikan diri meski hasil di lapangan mengecewakan. Kekhawatiran juga meningkat seiring dengan tren negatif performa tim, mulai dari poin per laga, jumlah gol yang dicetak, hingga jumlah kebobolan.
Manchester United kini berada dalam situasi sulit setelah start buruk di liga. Tekanan besar mengiringi setiap pertandingan mereka, namun Amorim tetap berpegang pada filosofi yang diyakininya. Ia menegaskan hanya dirinya sendiri yang bisa memutuskan perubahan sistem, kecuali klub memilih untuk menunjuk pelatih lain.
Editor: Diana 14

